Sunday, 18 March 2018

Transaksi forex menurut islam


Transaksi forex menurut islam
Sebagian umat Islam meragukan kehalalan praktik perdagangan berjangka. Bagaimana menurut padangan para pakar Islam?
Objek transaksi (ma & # 8217; qud alaih), yaitu barang-barang komoditi berjangka dan harga tukar (ra al-mal al-salam dan al-muçulmano fih).
Kalimat transaksi (Sighat & # 8216; aqad), yaitu ijab dan kabul. Yang perlu diperhatikan dari unsur-unsur tersebut, adalah bahwa ijab dan qabul dinyatakan dalam bahasa dan kalimat yang jelas menunjukkan transaksi berjangka. Karena itu, ulama Syafi & # 8217; iyah menekankan penggunaan istilah al-salam atau al-salaf di dalam kalimat-kalimat transaksi itu, dengan alasan bahwa & # 8216; aqd al-salam adalah bay & # 8217; Al-Ma & # 8217; dum dengan sifat dan cara berbeda dari akad jual dan beli (comprar).
1. Ada Ijab-Qobul: & # 8212; & gt; Ada perjanjian untuk memberi dan menerima.
* Ijab-Qobulnya dilakukan dengan lisan, tulisan dan utusan.
* Pembeli dan penjual mempunyai wewenang penuh melaksanakan dan melakukan tindakan-tindakan hukum (dewasa dan berpikiran sehat)
* Jelas barang dan harganya.
* Dijual (dibeli) por pemiliknya sendiri atau kuasanya atas izin pemiliknya.
* Barang sudah berada ditangannya jika barangnya diperoleh dengan imbalan.
6 komentar:
Bisnis forex memang kadang ada yang menganggap haram atau halal tergantung juga perspektif yang dimilikinya, dan kalau jujur ​​forex in sudah dilakukan sejak uang ada dimana pastinya dulu juga beragam jenis mata uang yang digunakan & lt; saya sendiri gak terlalu mempermasalahkan hal ini karena sekarang saya berusaha untuk fokus dengan trading yang saya lakukan di octafx yang memberikan saya livre troca akun.
Manajemen likuiditas yang benar oleh corretor adalah kunci bagi comerciante secara menguntungkan, Di Circle Mercados kami mengumpulkan likuiditas dari sekelompok banco dan penyedia não bancário terpilih yang terbukti konsisten dalam mengisi perdagangan dengan deslizamento seminimal mungkin. Info lengkapnya circlemarkets / about-us /
Tudak mudah untuk sukses for for for for díssimo, por favor, por favor, por favor, clique aqui.
-Klien Yang Terhormat, -
Untuk yang ane rasakan untuk gabung di ACY ini memang benar benar negociante terbaik, dimana ane sampai saat ini dapat bertahan akan jalankan trading forexnya, dengan nyaman, aman dengan tidak ada kendala permasalahan, ane merasa puas dengan telah hadirnya corretor ACY ini, terus om pertahankan dan kembangkan lagi deh untuk corretor ACY ini agar trader yang lain dapat rasakan kondisi layanan trading di ACY ini dengan nyaman, dan aman.

Pesquisa Forex Forex Fit4Global.
Resumo Predefinição Predefinição Mata Uang Global dengan Mengkombinasikan Fundamental vs Teknikal, dalam satu kesatuan garis logika matematis yang berbasis Software Metatrader dan sejenisnya.
Forex menurut Hukum Islam.
Banyak perbedaan pendapat tentang forex itu sendiri, ada yang mengatakan tidak boleh, tetapi ada juga yang mengatakan boleh. Dibawah ini adalah pendapat yang membolehkan dari beberapa sumber tentang forex itu sendiri (sedang untuk yang tidak membolehkan forex itu sendiri, silahkan search di Google). Fit4global. wordpress hanya memberi wacana, dan hanya fokus ke riset ilmiah tentang pergerakan forex. Fit4global. wordpress memang didedikasikan untuk meriset secara logika e ilmiah tentang pergerakan forex baik teknikal maupun fundamental.
Forex dari Perspektif Islam.
Sebagian umat Islam ada yang meragukan kehalalan praktik perdagangan berjangka. Bagaimana menurut padangan para pakar Islam? Apa pendapat para ulama mengenai trading forex, trading saham, índice de negociação, saham, dan komoditi? Apakah Hukum Forex Trading Valas Halal Menurut Hukum Islam? Mari kita ikuti selengkapnya.
Jangan engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu ", sabda Nabi Muhammad SAW, dalam sebuah teve seu caminho para Abu Hurairah.
Oleh sementara fuqaha (ahli fiqih Islam), teve tersebut ditafsirkan secara saklek. Pokoknya, setiap praktik jual beli yang tidak ada barangnya pada waktu akad, haram. Penafsiran secara demikian itu, tak pelak lagi, membuat fiqih Islam sulit untuk memenuhi tuntutan jaman yang terus berkembang dengan perubahan-perubahannya.
Karena itu, sejumlah ulama klasik yang terkenal dengan pemikiran cemerlangnya, menentang cara penafsiran yang terkesan sempit tersebut. Misalnya, Ibn al-Qayyim. Ulama bermazhab Hambali ini berpendapat, bahwa tidak benar jual-beli barang yang tidak ada dilarang. Baik dalam Al Qur'an, sunnah maupun fatwa para sahabat, larangan itu tidak ada.
Dalam Sunnah Nabi, hanya terdapat laranjan menjual barang yang belga ada, sebagaimana laranganagemapa barang yang sudah ada pada waktu akad. "Causa legisatau ilat larangan tersebut bukan ada atau tidak adanya barang, melainkan garar", ujar Dr. Syamsul Anwar, MA Dari IAIN SUKA Yogyakarta menjelaskan pendapat Ibn al-Qayyim. Garar adalah ketidakpastian tentang apakah barang yang diperjual-belikan itu dapat diserahkan atau tidak. Misalnya, seseorang menjual unta yang hilang. Atau menjual barang milik orang lain, padahal tidak diberi kewenangan oleh yang bersangkutan.
Jadi, meskipun pada waktu akad barangnya tidak ada, namun ada kepastian diadakan pada waktu diperlukan sehingga bisa diserahkan kepada pembeli, maka jual beli tersebut sah. Sebaliknya, kendati barangnya sudah ada tapi - karena satu dan lain hal - tidak mungkin diserahkan kepada pembeli, maka jual beli itu tidak sah.
Perdagangan berjangka, jelas, bukan garar. Sebab, dalam kontrak berjangkanya, jenis komoditi yang dijual-belikan sudah ditentukan. Begitu juga dengan jumlah, mutu, tempat dan waktu penyerahannya. Semuanya berjalan di atas re aturan resmi yang ketat, sebagai antisipasi terjadinya praktek penyimpangan berupa penipuan - satu hal yang sebetulnya bisa juga terjadi pada praktik jua-beli konvensional.
Dalam perspektif hukum Islã, Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) (forex adalah bagian dari PBK) dapat dimasukkan ke dalam kategori almasa'il almu'ashirah atau masalah-masalah hukum Islam kontemporer. Karena itu, status hukumnya dapat dikategorikan kepada masalah ijtihadiyyah. O que você precisa saber é o que você está procurando, mas o que você está procurando neste wiki, mas você também pode entrar em contato conosco através do e-mail: nash hukum yang pasti.
Dalam kategori masalah hukum al-Sahrastani, ia termasuk ke dalam paradigma al-nushush qad intahat wa al-waqa'I la tatanahi. Artinya, nash hukum dalam bentuk Al-Quran dan Sunnah sudah selesai; tidak lagi ada tambahan. Dengan demikian, kasus-kasus hukum yang baru muncul mesti diberikan kepastian hukumnya melalui ijtihad.
Dalam kasus hukum PBK, ijtihad dapat merujuk kepada teori perubahan hukum yang diperkenalkan por Ibn Qoyyim al-Jauziyyah. Ia menjelaskan, fatwa hukum dapat berubah karena beberapa variabel perubahnya, yakni: waktu, tempat, niat, tujuan dan manfaat. Teori perubahan hukum ini diturunkan dari paradigma ilmu hukum dari gurunya Ibn Taimiyyah, yang menyatakan bahwa a-haqiqah fi al-a'yan la fi al-adzhan. Artinya, kebenaran hukum itu dijumpai dalam kenyataan empirik; bukan dalam alam pemikiran atau alam idéia.
Paradigma ini diturunkan dari prinsip hukum Islam tentang keadilan yang dalam Al Quran digunakan istilah al-mizan, a-qisth, al-wasth, dan al-adl.
Dalam penerapannya, secara khusus masalah PBK dapat dimasukkan ke dalam bidang kajian fiqh al-siyasah maliyyah, yakni politik hukum kebendaan. Dengan kata lain, PBK termasuk kajian hukum Islã dalam pengertian bagaimana hukum Islamismo Diterapkan Dalam Masalah Kepemilikan Atas Harta Benda, Melalui perdagangan Berjangka Komoditi Dalam Era Global Skyspaos Perdidos.
Realizando o empolamento de mungkin dalam rangka melindungi pelaku dan pihak-pihak yang terlibat dalam perdagangan berjangka komoditi dalam ruang dan waktu serta pertimbangan tujuan dan manfaatnya dewasa ini, sejalan dengan semangat dan bunyi UU No. 32/1977 tentang PBK.
Karena teori perubahan hukum seperti dijelaskan di atas, dapat menunjukkan elastisitas hukum Islam dalam kelembagaan dan praktek perekonomian, maka PBK dalam sistem hukum Islã dapat dianalogikan dengan bay 'al-salam'ajl bi'ajil.
Bay'al-salam dapat diartikan sebagai berikut. Al-salam atau al-salaf adalah bay 'ajl bi'ajil, yakni memperjualbelikan sesuatu yang dengan ketentuan sifat-sifatnya yang terjamin kebenarannya. Di dalam transaksi demikian, penyerahan ra's al-mal dalam bentuk uang sebagai nilai tukar didahulukan daripada penyerahan komoditi yang dimaksud dalam transaksi itu. Ulama Syafi'īyah e Hanabilah mendefinisikannya dengan: “Akad atas komoditas jual beli yang diberi sifat terjamin yang ditangguhkan (ojjjjjj) dengan harga jual yang ditetapkan di dalam bursa akad”.
Keabsahan transaksi jual beli berjangka, ditentukan oleh terpenuhinya rukun dan syarat sebagai berikut:
a) Rukun sebagai unsur-unsur utama yang harus ada dalam suatu peristiwa transaksi Unsur-unsur utama di dalam bay 'al-salam adalah:
Pihak-pihak pelaku transaksi ('aqid) yang disebut dengan istilah muçulmano atau muslim ilaih. Objek transaksi (ma'qud alaih), yaitu barang-barang komoditi berjangka dan harga tukar (ra's al-mal al-salam dan al-muslim fih). Kalimat transaksi (Sighat "aqad"), yaitu ijab dan kabul. Yang perlu diperhatikan dari unsur-unsur tersebut, adalah bahwa ijab dan qabul dinyatakan dalam bahasa dan kalimat yang jelas menunjukkan transaksi berjangka. Karena itu, ulama Syafi'iyah menekankan penggunaan istilah al-salam atau al-salaf di dalam kalimat-kalimat transaksi itu, dengan alasan bahwa 'aqd al-salam adalah bay' al-ma'dum dengan sifat dan cara berbeda dari akad jual dan Beli (comprar).
Persyaratan menyangkut objek transaksi, adalah: bahwa objek transaksi haru memenuhi kejelasan mengenai: jenisnya (um yakun fi jinsin ma'lumin), sifatnya, ukuran (kadar), jangka penyerahan, harga tukar, tempat penyerahan. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh harga tukar (al-tsaman), adalah, Pertama, kejelasan jenis alat tukar, yaitu dirham, dinar, rupia atau dolar dsb atau barang-barang yang dapat ditimbang, disukat, dsb. Kedua, kejelasan jenis alat tukar apakah rupiah, dolar Amerika, dolar Singapura, dst. Apakah timbangan yang disepakati dalam bentuk quilograma, lagoa, dst. Kejelasan tentang kualitas objek transaksi, apakah kualitas istimewa, baik sedang atau buruk. Syarat-syarat di atas ditetapkan dengan maksud menghilangkan jahalah fi al-'aqd atau alasan ketidaktahuan kondisi-kondisi barang pada saat transaksi. Sebab hal ini akan mengakibatkan terjadinya perselisihan di antara pelaku transaksi, yang akan merusak nilai transaksi. Kejelasan jumlah harga tukar. Penjelasan singkat di atas nampaknya telah dapat memberikan kejelasan kebolehan PBK. Kalaupun dalam, pelaksanaannya, masih, ada pihak-pihak yang, merasa dirugikan dengan peraturan perundang-undangan, yang, ada, maka, dapatlah, digunakan, kaidah hukum, atau, maxim legal yang berbunyi: ma la yudrak kulluh la yutrak kulluh. Apa yang tidak dapat dilaksanakan semuanya, maka tidak perlu ditinggalkan keseluruhannya.
Dengan demikian, hukum dan pelaksanaan PBK sampai batas-batas tertentu boleh dinyatakan dapat diterima atau setidak-tidaknya sesuai dengan semangat dan jiwa norma hukum Islam, dengan menganalogikan kepada bay 'al-salam.
1. Os Contratos Básicos de Câmbio.
Existe um consenso geral entre os juristas islâmicos sobre a visão de que as moedas de diferentes países podem ser trocados em uma base local, a uma taxa diferente da unidade, uma vez que as moedas de diferentes países são entidades distintas com valores diferentes ou valor intrínseco e poder de compra. Parece haver um acordo geral entre a maioria dos acadêmicos na visão de que a troca de moeda em regime de adiantamento não é permitida, ou seja, quando os direitos e obrigações de ambas as partes se relacionam com uma data futura. No entanto, existe uma considerável diferença de opinião entre os juristas quando os direitos de qualquer uma das partes, que é igual à obrigação da contraparte, são diferidos para uma data futura.
Para elaborar, consideremos o exemplo de dois indivíduos A e B que pertencem a dois países diferentes, Índia e EUA, respectivamente. A pretende vender rúpias indianas e comprar dólares dos EUA. O inverso é verdadeiro para B. A taxa de câmbio rúpia-dólar acordada é 1:20 e a transação envolve compra e venda de US $ 50. A primeira situação é que A faz um pagamento no local de Rs1000 para B e aceita o pagamento de US $ 50 de B. A transação é liquidada de forma local por ambas as extremidades. Tais transações são válidas e islamicamente permissíveis. Não há duas opiniões sobre o mesmo. A segunda possibilidade é que a liquidação da transação de ambos os fins seja diferida para uma data futura, digamos, após seis meses a partir de agora. Isso implica que tanto a A quanto a B fazer e aceitar o pagamento de Rs1000 ou US $ 50, conforme o caso, após seis meses. A visão predominante é que tal contrato não é islamicamente permitido. Uma visão minoritária considera isso permitido. O terceiro cenário é que a transação é parcialmente liquidada apenas de uma extremidade. Por exemplo, A faz um pagamento de Rs1000 agora para B em vez de uma promessa de B de pagar $ 50 para ele depois de seis meses. Alternativamente, A aceita US $ 50 agora de B e promete pagar Rs1000 para ele depois de seis meses. Existem visões diametralmente opostas sobre a permissibilidade de tais contratos, que equivalem a bai-salam em moedas. O objetivo deste artigo é apresentar uma análise abrangente de vários argumentos em apoio e contra a permissibilidade desses contratos básicos envolvendo moedas. A primeira forma de contratação envolvendo troca de contravalores no local é além de qualquer tipo de controvérsia. A admissibilidade ou não do segundo tipo de contrato em que a entrega de um dos contravalores é adiada para uma data futura, geralmente é discutida no âmbito da proibição riba. Consequentemente, discutimos este contrato detalhadamente na seção 2 sobre a questão da proibição de riba. A admissibilidade da terceira forma de contrato em que a entrega de ambos os contravalores é diferida, é geralmente discutida no âmbito da redução de risco e incerteza ou gharar envolvidos em tais contratos. Este, portanto, é o tema central da seção 3, que trata da questão de gharar. A Seção 4 tenta uma visão holística da Sharia e relaciona questões como também o significado econômico das formas básicas de contratação no mercado de câmbio.
2. A questão da proibição de Riba.
A divergência de pontos de vista1 sobre a permissibilidade ou não de contratos de câmbio em moedas pode ser rastreada principalmente para a questão da proibição de riba.
A necessidade de eliminar a riba em todas as formas de contratos de câmbio é de extrema importância. Riba em seu contexto da Sharia é geralmente definida2 como um ganho ilegal derivado da desigualdade quantitativa dos contravalores em qualquer transação que pretenda efetuar a troca de duas ou mais espécies (anwa), que pertencem ao mesmo gênero (jins) e são regidas por a mesma causa eficiente (illa). Riba é geralmente classificada em riba al-fadl (excesso) e riba al-nasia (diferimento), que denota uma vantagem ilegal por meio de excesso ou diferimento, respectivamente. A proibição do primeiro é alcançada por uma estipulação de que a taxa de troca entre os objetos é unidade e nenhum ganho é permitido para qualquer das partes. O último tipo de riba é proibido por não permitir a liquidação diferida e garantir que a transação seja resolvida no local por ambas as partes. Outra forma de riba é chamada de riba al-jahiliyya ou riba pré-islâmica que se situa quando o credor pede ao mutuário na data de vencimento se o último liquidar a dívida ou aumentar a mesma. O aumento é acompanhado da cobrança de juros sobre o montante inicialmente emprestado.
A proibição de riba na troca de moedas de países diferentes exige um processo de analogia (qiyas). E em qualquer exercício envolvendo analogia (qiyas), causa eficiente (illa) desempenha um papel extremamente importante. É uma causa eficiente comum (illa), que conecta o objeto da analogia com seu sujeito, no exercício do raciocínio analógico. A causa eficiente apropriada (illa) no caso de contratos de câmbio foi definida de forma variada pelas principais escolas da Fiqh. Essa diferença se reflete no raciocínio análogo para moedas de papel pertencentes a países diferentes.
Uma questão de significância considerável no processo de raciocínio análogo refere-se à comparação entre moedas de papel com ouro e prata. Nos primeiros dias do Islã, ouro e prata desempenharam todas as funções do dinheiro (thaman). As moedas eram feitas de ouro e prata com um valor intrínseco conhecido (quantum de ouro ou prata contido nelas). Essas moedas são descritas como thaman haqiqi, ou naqdain na literatura Fiqh. Estes eram universalmente aceitáveis ​​como principal meio de troca, representando um grande número de transações. Muitas outras commodities, como, vários metais inferiores também serviram de meio de troca, mas com aceitabilidade limitada. Estes são descritos como fals na literatura Fiqh. Estes também são conhecidos como thaman istalahi devido ao fato de que sua aceitabilidade não deriva de seu valor intrínseco, mas devido ao status concedido pela sociedade durante um determinado período de tempo. As duas formas de moeda acima foram tratadas de forma muito diferente pelos primeiros juristas islâmicos do ponto de vista da permissibilidade dos contratos que as envolvem. A questão que precisa ser resolvida é se as moedas atuais do papel da idade se enquadram na categoria anterior ou a última. Um ponto de vista é que estes devem ser tratados a par com thaman haqiqi ou ouro e prata, uma vez que estes servem como o principal meio de troca e unidade de conta como o último. Assim, por um raciocínio análogo, todas as normas e injunções relacionadas à Sharia aplicáveis ​​a thaman haqiqi também devem ser aplicáveis ​​ao papel moeda. A troca de thaman haqiqi é conhecida como bai-sarf e, portanto, as transações em moedas de papel devem ser governadas pelas regras da Sharia relevantes para bai-sarf. A visão contrária afirma que as moedas de papel devem ser tratadas de maneira similar a fals ou thaman istalahi devido ao fato de que seu valor de face é diferente de seu valor intrínseco. Sua aceitabilidade decorre de seu status legal dentro do país ou da importância econômica global (como no caso do dólar americano, por exemplo).
2.1. Uma Síntese de Vistas Alternativas.
2.1.1. Raciocínio Analógico (Qiyas) para a Proibição de Riba.
A proibição de riba baseia-se na tradição de que o santo profeta (a paz esteja com ele) disse: "Vende ouro para ouro, prata para prata, trigo para trigo, cevada para cevada, data da data, sal para sal, nas mesmas quantidades no local; e quando as commodities são diferentes, vendam como você se adequa, mas no local ". Assim, a proibição de riba se aplica principalmente aos dois metais preciosos (ouro e prata) e quatro outras commodities (trigo, cevada, datas e sal) . Também se aplica, por analogia (qiyas) a todas as espécies que são governadas pela mesma causa eficiente (illa) ou que pertencem a qualquer dos gêneros dos seis objetos citados na tradição. No entanto, não existe um acordo geral entre as várias escolas do Fiqh e até mesmo os estudiosos pertencentes à mesma escola sobre a definição e identificação da causa eficiente (illa) do riba.
Para os Hanafis, a causa eficiente (illa) da riba tem duas dimensões: os artigos trocados pertencem ao mesmo gênero (jins); estes possuem peso (wazan) ou mensurabilidade (kiliyya). Se em uma dada troca, ambos os elementos da causa eficiente (illa) estão presentes, isto é, os contravalores trocados pertencem ao mesmo gênero (jins) e são todos pesáveis ​​ou todos mensuráveis, então nenhum ganho é permitido (a taxa de câmbio deve ser igual à unidade) e a troca deve ser feita no local. No caso de ouro e prata, os dois elementos de causa eficiente (illa) são: unidade de gênero (jins) e capacidade de pesagem. Esta é também a visão Hanbali de acordo com uma versão3. (Uma versão diferente é semelhante à visão Shafii e Maliki, conforme discutido abaixo.) Assim, quando o ouro é trocado por ouro, ou a prata é trocada por prata, apenas transações pontuais sem qualquer ganho são permitidas. Também é possível que em uma troca dada, um dos dois elementos de causa eficiente (illa) esteja presente e o outro esteja ausente. Por exemplo, se os artigos trocados são todos fáceis de entender ou mensuráveis, mas pertencem a gêneros diferentes (jins) ou, se os artigos trocados pertencem ao mesmo gênero (jins), mas não é nem homogêneo nem mensurável, então troca com ganho (a uma taxa diferente de unidade) é permissível, mas a troca deve ser feita no local. Assim, quando o ouro é trocado por prata, a taxa pode ser diferente da unidade, mas não é permitida a liquidação diferida. Se nenhum dos dois elementos de causa eficiente (illa) de riba estiver presente em uma dada troca, nenhuma das injunções para a proibição riba se aplica. A troca pode ocorrer com ou sem ganho e em uma base pontual ou diferida.
Considerando o caso de troca envolvendo moedas de papel pertencentes a diferentes países, a proibição riba exigiria uma busca de causa eficiente (illa). Moedas pertencentes a diferentes países são entidades claramente distintas; Estes são legais em limites geográficos específicos com diferentes valores intrínsecos ou poder de compra. Assim, uma grande maioria de estudiosos talvez afirmem, com razão, que não há unidade de gênero (jins). Além disso, estes não são pesáveis ​​nem mensuráveis. Isso leva a uma conclusão direta de que nenhum dos dois elementos de causa eficiente (illa) de riba existe em tal troca. Assim, a troca pode ser realizada sem qualquer injunção quanto à taxa de câmbio e à forma de liquidação. A lógica subjacente a esta posição não é difícil de compreender. O valor intrínseco das moedas de papel pertencentes a diferentes países difere, pois estes têm poder de compra diferente. Além disso, o valor intrínseco ou o valor das moedas de papel não pode ser identificado ou avaliado ao contrário do ouro e da prata que podem ser pesados. Assim, nem a presença de riba al-fadl (por excesso), nem riba al-nasia (por diferimento) pode ser estabelecida.
A escola Shafii de Fiqh considera a causa eficiente (illa) no caso de ouro e prata serem sua propriedade de ser moeda (thamaniyya) ou meio de troca, unidade de conta e loja de valor. Esta é também a visão de Maliki. De acordo com uma versão desse ponto de vista, mesmo que papel ou couro sejam feitos como meio de troca e recebam o status de moeda, todas as regras referentes a naqdain ou ouro e prata se aplicam a eles. Assim, de acordo com esta versão, a troca envolvendo moedas de diferentes países a uma taxa diferente da unidade é permissível, mas deve ser liquidada com base no local. Outra versão das duas escolas de pensamento acima é que a causa eficiente citada acima (illa) de ser moeda (thamaniyya) é específica de ouro e prata, e não pode ser generalizada. Ou seja, qualquer outro objeto, se usado como meio de troca, não pode ser incluído em sua categoria. Assim, de acordo com esta versão, as injunções Sharia para a proibição riba não são aplicáveis ​​às moedas de papel. As moedas pertencentes a diferentes países podem ser trocadas com ou sem ganho e em base pontual ou diferida.
Os defensores da versão anterior citam o caso da troca de moedas de papel pertencentes ao mesmo país em defesa da sua versão. A opinião consensual dos juristas, neste caso, é que tal troca deve ser sem qualquer ganho ou a uma taxa igual à unidade e deve ser resolvida em uma base local. Qual é a razão subjacente à decisão acima? Se considerarmos o Hanafi e a primeira versão da posição Hanbali, então, neste caso, apenas uma dimensão da causa eficiente (illa) está presente, ou seja, pertencem ao mesmo gênero (jins). Mas as moedas de papel não são pesáveis ​​nem mensuráveis. Por conseguinte, a lei de Hanafi aparentemente permitiria o intercâmbio de diferentes quantidades da mesma moeda no local. Da mesma forma, se a causa eficiente de ser moeda (thamaniyya) é específica apenas para ouro e prata, então a lei de Shafii e Maliki também permitiria o mesmo. Escusado será dizer que isso equivale a permitir empréstimos e empréstimos com base na riba. Isso mostra que, é a primeira versão do pensamento Shafii e Maliki que fundamenta a decisão consensual de proibição de ganho e liquidação diferida em caso de troca de moedas pertencentes ao mesmo país. De acordo com os proponentes, estender essa lógica ao intercâmbio de moedas de diferentes países implicaria que a permuta com ganho ou a uma taxa diferente da unidade é permitida (uma vez que não há unidade de jins), mas a liquidação deve ser no local.
2.1.2 Comparação entre Câmbio de Moeda e Bai-Sarf.
Bai-sarf é definido na literatura Fiqh como uma troca envolvendo thaman haqiqi, definido como ouro e prata, que serviu como o principal meio de troca para quase todas as principais transações.
Os proponentes da opinião de que qualquer troca de moedas de diferentes países é a mesma de bai-sarf argumentam que, na era atual, as moedas de papel substituíram de maneira efetiva e completa o ouro e a prata como meio de troca. Assim, por analogia, a troca envolvendo tais moedas deve ser governada pelas mesmas regras e injunções da Sharia como bai-sarf. Também se argumenta que, se for permitida a liquidação diferida de ambas as partes no contrato, isso abriria as possibilidades de riba-al nasia.
Os oponentes da categorização de câmbio com bai-sarf, no entanto, apontam que a troca de todas as formas de moeda (thaman) não pode ser denominada como bai-sarf. De acordo com esta visão, o bai-sarf implica troca de moedas feitas de ouro e prata (thaman haqiqi ou naqdain) sozinhas e não de dinheiro que as autoridades estaduais (thaman istalahi) pronunciaram como tal. As moedas atuais da época são exemplos desse último tipo. Esses estudiosos encontram apoio nesses escritos que afirmam que se as commodities de troca não são ouro ou prata (mesmo que uma delas seja ouro ou prata), a troca não pode ser denominada como bai-sarf. Nem as estipulações relativas ao bai-sarf seriam aplicáveis ​​a tais trocas. De acordo com Imam Sarakhsi4 "quando um indivíduo compra falsas ou moedas feitas de metais inferiores, como, por exemplo, cobre (thaman istalahi) para dirhams (thaman haqiqi) e faz um pagamento no local do último, mas o vendedor não possui falsos momento, então, tal permuta é admissível ...... .. tomar posse de mercadorias trocadas por ambas as partes não é uma condição prévia "(enquanto no caso de bai-sarf, é.) Existem várias referências semelhantes que indicam que os juristas não classificam uma troca de fals (thaman istalahi) por outro falso (thaman istalahi) ou ouro ou prata (thaman haqiqi), como bai-sarf.
Assim, as trocas de moedas de dois países diferentes que só podem ser considerados como thaman istalahi não podem ser categorizadas como bai-sarf. Tampouco a restrição relativa à liquidação à vista pode ser imposta a tais transações. Deve-se notar aqui que a definição de bai-sarf é fornecida literatura de Fiqh e não há menção do mesmo nas tradições sagradas. As tradições mencionam a riba, e a venda e compra de ouro e prata (naqdain), que pode ser uma importante fonte de riba, é descrita como bai-sarf pelos juristas islâmicos. Também deve ser notado que, na literatura Fiqh, bai-sarf implica troca de ouro ou prata apenas; se estes estão sendo utilizados atualmente como meio de troca ou não. Troca envolvendo dinares e ornamentos de ouro, ambos com qualidade de bai-sarf. Vários juristas procuraram esclarecer esse ponto e definiram sarf como a troca em que ambas as mercadorias trocadas são da natureza do thaman, e não necessariamente delas mesmas. Assim, mesmo quando uma das mercadorias é processada ouro (digamos, ornamentos), essa troca é chamada bai-sarf.
Os defensores da visão de que a troca de moeda deve ser tratada de forma semelhante ao bai-sarf também derivam o apoio de escritos de juristas islâmicos eminentes. Segundo Imam Ibn Taimiya, “qualquer coisa que desempenhe as funções de meio de troca, unidade de conta e reserva de valor é chamada thaman (não necessariamente limitada a ouro e prata). Referências semelhantes estão disponíveis nos escritos do Imam Ghazzali5. No que diz respeito às opiniões do Imam Sarakhshi em relação à troca envolvendo fals, de acordo com eles, alguns pontos adicionais precisam ser tomados em consideração. Nos primeiros dias do Islã, dinares e dirhams feitos de ouro e prata eram usados ​​principalmente como meio de troca em todas as principais transações. Apenas os menores foram resolvidos com fals. Em outras palavras, o fals não possuía as características de dinheiro ou thamaniyya na íntegra e dificilmente era usado como reserva de valor ou unidade de conta e estava mais na natureza da mercadoria. Portanto, não houve restrição na compra do mesmo por ouro e prata em regime diferido. As moedas atuais têm todas as características de thaman e são destinadas apenas a Thaman. O intercâmbio envolvendo moedas de diferentes países é o mesmo que o bai-sarf com a diferença de jins e, portanto, a liquidação diferida levaria a riba al-nasia.
O Dr. Mohamed Nejatullah Siddiqui ilustra esta possibilidade com um exemplo6. Ele escreve: "Em um determinado momento no momento em que a taxa de câmbio do mercado entre o dólar e a rupia é de 1:20, se uma pessoa adquire US $ 50 à alíquota de 1:22 (liquidação de sua obrigação em Rúpias diferida para uma data futura) então é altamente provável que ele esteja, de fato, tomando emprestado Rs. 1000 agora em vez de uma promessa de reembolso de Rs. 1100 em uma data posterior especificada. (Desde então, ele pode obter Rs 1000 agora, trocando os $ 50 comprados em crédito à taxa local) "Assim, o sarf pode ser convertido em empréstimo com base em juros e amp; empréstimo.
2.1.3 Definir Thamaniyya é a chave?
Parece da síntese acima de pontos de vista alternativos que a questão-chave parece ser uma definição correta de thamaniyya. Por exemplo, uma questão fundamental que leva a posições divergentes sobre a permissibilidade relaciona se thamaniyya é específico para ouro e prata, ou pode ser associado a qualquer coisa que desempenhe as funções de dinheiro. Levamos algumas questões abaixo, que podem ser levadas em consideração em qualquer exercício de reconsideração de posições alternativas.
Deve ser apreciado que thamaniyya pode não ser absoluto e pode variar em graus. É verdade que as moedas de papel substituíram completamente ouro e prata como meio de troca, unidade de conta e estoque de valor. Neste sentido, as moedas de papel podem ser consideradas possuidoras de thamaniyya. No entanto, isso é verdade apenas para moedas domésticas e pode não ser verdade para moedas estrangeiras. Em outras palavras, as rúpias indianas possuem thamaniyya dentro dos limites geográficos da Índia apenas, e não têm nenhuma aceitação nos EUA. Não se pode dizer que estes possamos thamaniyya nos EUA, a menos que um cidadão dos EUA possa usar rúpias indianas como meio de troca, unidade de conta ou armazenamento de valor. Na maioria dos casos, essa possibilidade é remota. Essa possibilidade também é uma função do mecanismo de taxa de câmbio em vigor, como a conversibilidade das rúpias indianas em dólares norte-americanos e a existência ou não de um sistema de taxa de câmbio fixa ou flutuante. Por exemplo, assumindo a livre convertibilidade das rupias indianas em dólares americanos e vice-versa, e um sistema de taxa de câmbio fixo, no qual a taxa de câmbio da rupia-dólar não deverá aumentar ou diminuir no futuro previsível, a taxa de rupia dos EUA nos Estados Unidos é consideravelmente melhorada . O exemplo citado pelo Dr. Nejatullah Siddiqui também parece bastante robusto nas circunstâncias. A permissão para trocar rúpias por dólares em regime de diferimento (de um lado, é claro) a uma taxa diferente da taxa local (taxa oficial que provavelmente permanecerá fixada até a data da liquidação) seria um caso claro baseado em juros empréstimos e empréstimos. No entanto, se a suposição de taxa de câmbio fixa for relaxada e se presumir que o atual sistema de taxas de câmbio flutuantes e voláteis é o caso, então pode ser demonstrado que o caso de riba al-nasia se desfaz. Reescrevemos seu exemplo: "Em um determinado momento no momento em que a taxa de câmbio do mercado entre dólar e Rúpia é de 1:20, se uma pessoa adquire US $ 50 à alíquota de 1:22 (liquidação de sua obrigação em Rúpias diferida para um futuro data), então é altamente provável que ele seja, de fato, emprestado Rs. 1000 agora em vez de uma promessa de pagar Rs. 1100 em uma data posterior especificada. (Desde então, ele pode obter Rs 1000 agora, trocando os $ 50 adquiridos em crédito à taxa spot) "Isso seria assim, somente se o risco cambial for inexistente (a taxa de câmbio permanece às 1:20), ou é suportada pela vendedor de dólares (o comprador paga em rupias e não em dólares). Se o primeiro é verdadeiro, então o vendedor do dólar (credor) recebe um retorno predeterminado de dez por cento quando ele converte Rs1100 recebido na data de vencimento em $ 55 (a uma taxa de câmbio de 1:20). No entanto, se o último for verdadeiro, o retorno ao vendedor (ou ao credor) não está predeterminado. Não precisa nem ser positivo. Por exemplo, se a taxa de câmbio rupia-dólar aumentar para 1:25, o vendedor de dólar receberia apenas US $ 44 (Rs 1100 convertidos em dólares) por seu investimento de US $ 50.
Aqui, dois pontos a destacar. Primeiro, quando se assume um regime de taxa de câmbio fixo, a distinção entre moedas de diferentes países é diluída. A situação se torna semelhante a trocar libras esterlinas (moedas pertencentes ao mesmo país) a uma taxa fixa. Em segundo lugar, quando se assume um sistema de taxa de câmbio volátil, então, assim como se pode visualizar os empréstimos através do mercado de moeda estrangeira (mecanismo sugerido no exemplo acima), também pode-se visualizar empréstimos através de qualquer outro mercado organizado (como, por exemplo, para commodities ou ações .) Se alguém substituir dólares por ações no exemplo acima, seria lido como: "Em um determinado momento no momento em que o preço de mercado do estoque X é de Rs 20, se um indivíduo comprar 50 ações na taxa de Rs 22 (liquidação de sua obrigação em rúpias diferida para uma data futura), então é altamente provável que ele esteja, de fato, tomando emprestado Rs. 1000 agora em vez de uma promessa de pagar Rs. 1100 em uma data posterior especificada. (Desde então, ele pode obter o Rs 1000 agora, trocando os 50 estoques comprados no crédito a preço atual) "Neste caso também, como no exemplo anterior, os retornos para o vendedor de ações podem ser negativos se o preço das ações aumentar para Rs 25 no data de liquidação. Assim, assim como os retornos no mercado de ações ou no mercado de commodities são islamicamente aceitáveis ​​por causa do risco de preço, o mesmo ocorre com os retornos no mercado de moedas devido às flutuações nos preços das moedas.
Uma característica única de thaman haqiqi ou ouro e prata é que o valor intrínseco da moeda é igual ao seu valor nominal. Assim, a questão de diferentes limites geográficos em que circula uma determinada moeda, como dinar ou dirham, é completamente irrelevante. O ouro é ouro, seja no país A ou no país B. Assim, quando a moeda do país A feita de ouro é trocada por moeda do país B, também feita de ouro, então qualquer desvio da taxa de câmbio da unidade ou aferição de liquidação por qualquer das partes não pode ser permitido, pois isso envolve claramente riba al-fadl e também riba al-nasia. No entanto, quando as moedas de papel do país A são trocadas por papel moeda do país B, o caso pode ser completamente diferente. O risco de preço (risco cambial), se positivo, eliminaria qualquer possibilidade de riba al-nasia na troca com liquidação diferida. No entanto, se o risco de preço (risco de taxa de câmbio) for zero, essa troca poderá ser uma fonte de riba al-nasia se for permitida a liquidação diferida7.
Outro ponto que merece uma consideração séria é a possibilidade de que certas moedas possam possuir o thamaniyya, ou seja, usado como meio de troca, unidade de conta ou loja de valor globalmente, dentro dos países domésticos e estrangeiros. Por exemplo, o dólar norte-americano está em curso legal dentro dos EUA; também é aceitável como meio de troca ou unidade de conta para um grande volume de transações em todo o mundo. Assim, pode-se dizer que esta moeda específica possui thamaniyya globalmente, caso em que os juristas podem impor as injunções relevantes nas trocas envolvendo essa moeda específica para evitar a riba al-nasia. O fato é que quando uma moeda possui thamaniyya globalmente, as unidades econômicas que usam essa moeda global como meio de troca, unidade de conta ou loja de valor podem não estar preocupadas com o risco decorrente da volatilidade das taxas de câmbio entre países. Ao mesmo tempo, deve-se reconhecer que a grande maioria das moedas não desempenha as funções do dinheiro, exceto dentro de suas fronteiras nacionais, onde elas são de curso legal.
Riba e risco não podem coexistir no mesmo contrato. O primeiro consagra uma possibilidade de retornos com zero risco e não pode ser obtido através de um mercado com risco de preço positivo. Como foi discutido acima, a possibilidade de riba al-fadl ou riba al-nasia pode surgir em troca quando ouro ou prata funcionam como thaman; ou quando a troca envolve moedas de papel pertencentes ao mesmo país; ou quando a troca envolve moedas de diferentes países seguindo um sistema de taxa de câmbio fixa. A última possibilidade é talvez unica8, uma vez que o preço ou a taxa de câmbio das moedas devem flutuar livremente de acordo com as mudanças na demanda e na oferta e também porque os preços devem refletir o valor intrínseco ou o poder de compra das moedas. Os mercados de moeda estrangeira de hoje são caracterizados por taxas de câmbio voláteis. Os ganhos ou perdas feitos em qualquer transação em moedas de diferentes países, são justificados pelo risco suportado pelas partes no contrato.
2.1.4. Possibilidade de Riba com Futuros e Direito.
Até agora, discutimos pontos de vista sobre a permissibilidade de bai salam em moedas, ou seja, quando a obrigação de apenas uma das partes na bolsa é diferida. Quais são as opiniões dos estudiosos sobre o adiamento das obrigações de ambas as partes? O exemplo típico de tais contratos são futuros e futuros9. De acordo com uma grande maioria de estudiosos, isso não é permitido por vários motivos, sendo o mais importante o elemento de risco e incerteza (gharar) e a possibilidade de especulação de um tipo que não é permitido. Isso é discutido na seção 3. No entanto, outro motivo para rejeitar tais contratos pode ser uma proibição de riba. No parágrafo anterior, discutimos que o bai salam em moedas com taxas de câmbio flutuantes não pode ser usado para ganhar riba devido à presença de risco cambial. É possível demonstrar que o risco cambial pode ser coberto ou reduzido a zero com outro contrato a prazo negociado simultaneamente. E, uma vez que o risco é eliminado, o ganho claramente seria riba.
Nós modificamos e reescrevemos o mesmo exemplo: "Em um determinado momento no momento em que a taxa de câmbio entre dólar e Rúpia é de 1:20, um indivíduo compra US $ 50 à alíquota de 1:22 (liquidação de sua obrigação em Rúpias diferidas para uma data futura), e o vendedor de dólares também cobre sua posição ao celebrar um contrato a termo para vender Rs1100 para ser recebido na data futura a uma taxa de 1:20, então é altamente provável que ele seja, de fato, emprestando Rs. 1000 agora em vez de uma promessa de reembolso de Rs. 1100 em uma data posterior especificada. (Desde então, ele pode obter Rs 1000 agora, trocando os 50 dólares comprados a crédito à taxa spot) "O vendedor dos dólares (credor) recebe um retorno predeterminado de dez por cento quando converte Rs1100 recebido na data de vencimento em 55 dólares ( a uma taxa de câmbio de 1:20) por seu investimento de 50 dólares, independentemente da taxa de câmbio do mercado vigente na data de vencimento.
Outra maneira simples de ganhar o riba pode envolver uma transação no local e uma transação para a frente simultânea. Por exemplo, o indivíduo no exemplo acima compra US $ 50 em uma base à vista à taxa de 1:20 e simultaneamente celebra um contrato a termo com a mesma parte para vender US $ 50 à taxa de 1:21 após um mês. Com efeito, isso implica que ele está emprestando Rs1000 agora ao vendedor de dólares por um mês e ganha uma participação de Rs50 (ele recebe Rs1050 após um mês. Essa é uma transação típica de recompra ou recompra tão comum em operações bancárias convencionais). .10.
3. A questão da liberdade de Gharar.
Gharar, ao contrário de riba, não tem uma definição de consenso. Em termos gerais, ela conhece risco e incerteza. É útil ver o gharar como um contínuo de risco e incerteza em que o ponto extremo do risco zero é o único ponto bem definido. Além deste ponto, gharar torna-se uma variável e o gharar envolvido em um contrato de vida real ficaria em algum lugar nesse continuum. Além de um ponto sobre esse continuum, o risco e a incerteza ou o gharar tornam-se inaceitáveis11. Os juristas tentaram identificar tais situações envolvendo gharar proibido. Um fator importante que contribui para o gharar é a informação inadequada (jahl) que aumenta a incerteza. Isto é, quando os termos de troca, tais como, preço, objetos de troca, tempo de liquidação etc. não estão bem definidos. Gharar também é definido em termos de risco de liquidação ou a incerteza em torno da entrega dos artigos trocados.
Os estudiosos islâmicos identificaram as condições que tornam um contrato incerto na medida em que é proibido. Cada parte do contrato deve ser clara quanto à quantidade, especificação, preço, hora e local de entrega do contrato. Um contrato, por exemplo, para vender peixe no rio envolve incerteza sobre o assunto da troca, sobre sua entrega e, portanto, não é islamicamente permissível. A necessidade de eliminar qualquer elemento de incerteza inerente a um contrato é ressaltada por várias tradições.
Um resultado de excesso de gharar ou incerteza é que isso leva à possibilidade de especulação de uma variedade que é proibida. A especulação na sua pior forma, é o jogo. O sagrado Alcorão e as tradições do santo profeta proíbem explicitamente os ganhos obtidos a partir de jogos de azar que envolvem rendimentos não ganhos. O termo usado para jogar é maisir, o que literalmente significa conseguir algo com muita facilidade, obtendo um lucro sem trabalhar para ele. Além de puros jogos de azar, o santo profeta também proibia ações que gerassem rendas não obtidas sem muito esforço produtivo.13.
Aqui pode ser notado que o termo especulação tem diferentes conotações. Sempre envolve uma tentativa de prever o resultado futuro de um evento. Mas o processo pode ou não ser apoiado por coleta, análise e interpretação de informações relevantes. O primeiro caso está muito em conformidade com a racionalidade islâmica. Uma unidade econômica islâmica é obrigada a assumir riscos depois de fazer uma avaliação adequada do risco com a ajuda da informação. Todas as decisões de negócios envolvem especulação nesse sentido. É somente na ausência de informações ou em condições de excesso de gharar ou incerteza que a especulação é semelhante a um jogo de azar e é reprovável.
3,2 Gharar & amp; Especulação com Futures & amp; Avançar.
Considerando o caso dos contratos básicos de câmbio destacados na seção 1, pode-se notar que o terceiro tipo de contrato em que a liquidação de ambas as partes é adiada para uma data futura é proibida, de acordo com uma grande maioria de juristas por motivos de excesso de gharar . Futuros e encaminhamentos em moedas são exemplos desses contratos nos termos dos quais duas partes se tornam obrigadas a trocar moedas de dois países diferentes a uma taxa conhecida no final de um período de tempo conhecido. Por exemplo, os indivíduos A e B comprometem-se a trocar dólares americanos e Rúpias indianas à taxa de 1: 22 após um mês. Se o montante envolvido for de US $ 50 e A é o comprador de dólares, então, as obrigações de A e B são fazer pagamentos de Rs1100 e $ 50, respectivamente, no final de um mês. O contrato é resolvido quando ambas as partes honram suas obrigações na data futura.
Tradicionalmente, uma esmagadora maioria dos estudiosos da Sharia desaprovaram tais contratos por vários motivos. A proibição aplica-se a todos os contratos em que as obrigações de ambas as partes sejam diferidas para uma data futura, incluindo contratos envolvendo troca de moedas. Uma objeção importante é que tal contrato envolve a venda de um objeto inexistente ou de um objeto que não possui o vendedor. Essa objeção é baseada em várias tradições do santo profeta.14 Há uma diferença de opinião sobre se a proibição nas referidas tradições se aplica a alimentos, mercadorias perecíveis ou a todos os objetos de venda. No entanto, há um acordo geral sobre a opinião de que a causa eficiente (illa) da proibição de venda de um objeto que o vendedor não possui ou de venda antes de tomar posse é gharar, ou a possível falha na entrega dos bens comprado.
Essa causa eficiente (illa) está presente em uma troca que envolve futuros contratos em moedas de diferentes países? Em um mercado com conversibilidade total e livre ou sem restrições sobre o fornecimento de moedas, a probabilidade de falha na entrega da mesma na data de vencimento não deve ser motivo de preocupação. Além disso, acredita-se que a natureza padronizada dos contratos de futuros e procedimentos operacionais transparentes nos mercados de futuros organizados15 minimize essa probabilidade. Alguns estudiosos recentes opinaram à luz do acima que os futuros, em geral, deveriam ser permitidos. Segundo eles, a causa eficiente (illa), ou seja, a probabilidade de falha na entrega era bastante relevante em um mercado simples, primitivo e desorganizado. Não é mais relevante nos mercados futuros organizados de hoje16. Tal contenção, no entanto, continua a ser rejeitada pela maioria dos estudiosos. Eles ressaltam o fato de que os contratos futuros quase nunca envolvem entrega por ambas as partes. Pelo contrário, as partes no contrato revertem a transação e o contrato é resolvido somente na diferença de preço. Por exemplo, no exemplo acima, se a taxa de câmbio mudar para 1: 23 na data de vencimento, a transação reversa para o indivíduo A significaria vender US $ 50 na taxa de 1:23 para o indivíduo B. Isso implicaria A fazendo um Ganho de Rs50 (a diferença entre Rs1150 e Rs1100). Isso é exatamente o que B perderia. Pode acontecer que a taxa de câmbio mude para 1:21, caso em que A perderia Rs50, que é o que B ganharia. Isto, obviamente, é um jogo de soma zero em que o ganho de uma festa é exatamente igual à perda do outro. Essa possibilidade de ganhos ou perdas (que, teoricamente, pode tocar o infinito) encoraja as unidades econômicas a especular sobre a direção futura das taxas de câmbio. Como as taxas de câmbio flutuam aleatoriamente, ganhos e perdas também são aleatórios e o jogo é reduzido a um jogo de azar. Há uma vasta literatura sobre a previsibilidade das taxas de câmbio e uma grande maioria dos estudos empíricos forneceram evidências de apoio sobre a futilidade de qualquer tentativa de fazer previsões de curto prazo. As taxas de câmbio são voláteis e permanecem imprevisíveis pelo menos para a grande maioria dos participantes no mercado. É desnecessário dizer que qualquer tentativa de especular na esperança dos ganhos teoricamente infinitos é, com toda probabilidade, um jogo de sorte para esses participantes. Enquanto os ganhos, se se materializam, são da natureza de mais ou ganhos não ganhos, a possibilidade de perdas igualmente massivas indica uma possibilidade de inadimplência do perdedor e, portanto, de gharar.
3.3. Gestão de Riscos em Mercados Voláteis.
A cobertura ou redução de risco aumenta o planejamento e a eficiência gerencial. A justificativa econômica dos futuros e dos adiantamentos é o termo de seu papel de dispositivo de hedge. No contexto dos mercados de moedas, que se caracterizam por taxas voláteis, acredita-se que esses contratos permitem às partes transferir e eliminar o risco decorrente de tais flutuações. Por exemplo, modificando o exemplo anterior, assumir que o indivíduo A é um exportador da Índia para EUA que já vendeu algumas commodities para B, o importador dos EUA e antecipa um fluxo de caixa de US $ 50 (o que na taxa de mercado atual de 1:22 significa Rs 1100 para ele) depois de um mês. Existe a possibilidade de o dólar americano se depreciar contra a rupia indiana durante esses meses, caso em que A realizaria menos quantidade de Rúpias por US $ 50 (se a nova taxa for 1:21, A realizaria apenas Rs1050). Assim, A pode entrar em um contrato futuro ou futuro para vender US $ 50 à taxa de 1: 21,5 no final de um mês (e assim, realizar Rs1075) com qualquer contraparte que, com toda probabilidade, teria expectativas diametralmente opostas em relação a futuro direção das taxas de câmbio. Neste caso, A é capaz de proteger sua posição e, ao mesmo tempo, renuncia à oportunidade de fazer um ganho se suas expectativas não se concretizarem e o dólar norte-americano se valorize contra a rupia indiana (digamos, 1:23, o que implica que ele teria percebeu Rs1150 e não Rs1075 que ele perceberia agora). Embora as ferramentas de hedge sempre melhorem o planejamento e, portanto, o desempenho, deve notar-se que a intenção da contratada - seja para hedge ou para especular, nunca pode ser determinada.
Pode-se notar que a cobertura também pode ser realizada com bai salam em moedas. Como no exemplo acima, o exportador A antecipando uma entrada de dinheiro de US $ 50 após um mês e esperando uma depreciação do dólar pode ir para uma venda de US $ 50 (com sua obrigação de pagar US $ 50 diferido por um mês.) Desde que ele está esperando um dólar depreciação, ele pode concordar em vender US $ 50 à taxa de 1: 21,5. Haveria uma entrada imediata de dinheiro em Rs 1075 para ele. A questão pode ser: por que a contraparte deveria pagar-lhe rúpias agora em vez de uma promessa a ser paga em dólares depois de um mês? Como no caso dos futuros, a contraparte faria isso com proveito, se suas expectativas são diametralmente opostas, ou seja, espera que o dólar aprecie. Por exemplo, se o dólar se valorizar a 1: 23 durante o período de um mês, ele receberá Rs1150 por Rs 1075 que investiu na compra de US $ 50. Assim, enquanto A é capaz de proteger sua posição, a contraparte pode lucrar com a negociação de moedas. A diferença em relação ao cenário anterior é que a contraparte seria mais restrita na negociação por causa do investimento necessário, e é improvável que essa negociação tome a forma de uma especulação desenfreada.
4. Resumo e amp; Conclusão.
Os mercados monetários de hoje são caracterizados por taxas de câmbio voláteis. Este fato deve ser tomado em consideração em qualquer análise dos três tipos básicos de contratos em que a base de distinção é a possibilidade de adiamento de obrigações para o futuro. Tentamos avaliar essas formas de contratação em termos da necessidade irresistível de eliminar qualquer possibilidade de riba, minimizar gharar, jahl e a possibilidade de especulação de um tipo semelhante a jogos de azar. Em um mercado volátil, os participantes estão expostos ao risco cambial e a racionalidade islâmica exige que esse risco seja minimizado no interesse da eficiência se não for reduzido a zero.
É óbvio que a resolução local das obrigações de ambas as partes proibiria completamente riba, e gharar, e minimizava a possibilidade de especulação. No entanto, isso também implicaria a ausência de qualquer técnica de gerenciamento de risco e poderia envolver alguns problemas práticos para os participantes.
No outro extremo, se as obrigações de ambas as partes forem adiadas para uma data futura, então tal contratação, com toda a probabilidade, abriria a possibilidade de ganhos e perdas infinitas e não vencidas do que pode ser justamente denominado para a maioria dos participantes como jogos de azar. Claro, isso também permitiria que os participantes gerenciassem o risco através de transferência de risco completa para outros e reduzissem o risco para zero. É essa possibilidade de redução de risco a zero que pode permitir que um participante ganhe riba. O futuro não é uma nova forma de contrato. Pelo contrário, a justificativa para proibi-lo é nova. Se numa economia primitiva simples, era a prevenção da gharar relativa à entrega do artigo trocado, no complexo sistema financeiro e nas trocas organizadas de hoje, é a prevenção da especulação de tipo não islâmico e que é possível sob excesso de gharar envolvido na previsão taxas de câmbio altamente voláteis. Essa especulação não é apenas uma possibilidade, mas uma realidade. O motivo preciso de uma unidade econômica entrar em um contrato futuro - a especulação ou a cobertura não podem ser verificáveis ​​(os reguladores podem monitorar o uso final, mas tal regulamentação pode não ser muito prática, nem eficaz em um mercado livre). A evidência empírica em um nível macro, no entanto, indica que o primeiro é o motivo dominante.
The second type of contracting with deferment of obligations of one of the parties to a future date falls between the two extremes. While Sharia scholars have divergent views about its permissibility, our analysis reveals that there is no possibility of earning riba with this kind of contracting. The requirement of spot settlement of obligations of atleast one party imposes a natural curb on speculation, though the room for speculation is greater than under the first form of contracting. The requirement amounts to imposition of a hundred percent margin which, in all probability, would drive away the uninformed speculator from the market. This should force the speculator to be a little more sure of his expectations by being more informed. When speculation is based on information it is not only permissible, but desirable too. Bai salam would also enable the participants to manage risk. At the same time, the requirement of settlement from one end would dampen the tendency of many participants to seek a complete transfer of perceived risk and encourage them to make a realistic assessment of the actual risk. .
Notes & Referências.
1. Essas diversas visões se refletem nos trabalhos apresentados no IV Seminário Fiqh organizado pela Islamic Fiqh Academy, na Índia, em 1991, que foram posteriormente publicados em Majalla Fiqh Islami, parte 4 pela Academia. A discussão sobre a proibição riba desenha esses pontos de vista.
2. Nabil Saleh, ganho ilegal e lucro legítimo na lei islâmica, Graham e Trotman, Londres, 1992, p.16.
3. Ibn Qudama, al-Mughni, vol.4, pp.5-9.
4. Shams al Din al Sarakhsi, al-Mabsut, vol 14, pp 24-25.
5. Paper presented by Abdul Azim Islahi at the Fourth Fiqh Seminar organized by Islamic Fiqh Academy, India in 1991.
6. Paper by Dr M N Siddiqui highlighting the issue was circulated among all leading Fiqh scholars by the Islamic Fiqh Academy, India for their views and was the main theme of deliberations during the session on Currency Exchange at the Fourth Fiqh Seminar held in 1991.
7. It is contended by some that the above example may be modified to show the possibility of riba with spot settlement too. “In a given moment in time when the market rate of exchange between dollar and rupee is 1:20, if an individual purchases $50 at the rate of 1:22 (settlement of his obligation also on a spot basis), then it amounts to the seller of dollars exchanging $50 with $55 on a spot basis (Since, he can obtain Rs 1100 now, exchange them for $55 at spot rate of 1:20)” Thus, spot settlement can also be a clear source of riba. Does this imply that spot settlement should be proscribed too ? The fallacy in the above and earlier examples is that there is no single contract but multiple contracts of exchange occurring at different points in time (true even in the above case). Riba can be earned only when the spot rate of 1:20 is fixed during the time interval between the transactions. This assumption is, needless to say, unrealistic and if imposed artificially, perhaps unIslamic.
8. Islam envisages a free market where prices are determined by forces of demand and supply. There should be no interference in the price formation process even by the regulators. While price control and fixation is generally accepted as unIslamic, some scholars, such as, Ibn Taimiya do admit of its permissibility. However, such permissibility is subject to the condition that price fixation is intended to combat cases of market anomalies caused by impairing the conditions of free competition. If market conditions are normal, forces of demand and supply should be allowed a free play in determination of prices.
9. Some Islamic scholars use the term forward to connote a salam sale. However, we use this term in the conventional sense where the obligations of both parties are deferred to a future date and hence, are similar to futures in this sense. The latter however, are standardized contracts and are traded on an organized Futures Exchange while the former are specific to the requirements of the buyer and seller.
10. This is known as bai al inah which is considered forbidden by almost all scholars with the exception of Imam Shafii. Followers of the same school, such as Al Nawawi do not consider it Islamically permissible.
11. It should be noted that modern finance theories also distinguish between conditions of risk and uncertainty and assert that rational decision making is possible only under conditions of risk and not under conditions of uncertainty. Conditions of risk refer to a situation where it is possible with the help of available data to estimate all possible outcomes and their corresponding probabilities, or develop the ex-ante probability distribution. Under conditions of uncertainty, no such exercise is possible. The definition of gharar, Real-life situations, of course, fall somewhere in the continuum of risk and uncertainty.
12. The following traditions underscore the need to avoid contracts involving uncertainty.
Ibn Abbas reported that when Allah’s prophet (pbuh) came to Medina, they were paying one and two years advance for fruits, so he said: “Those who pay in advance for any thing must do so for a specified weight and for a definite time”.
It is reported on the authority of Ibn Umar that the Messenger of Allah (pbuh) forbade the transaction called habal al-habala whereby a man bought a she-camel which was to be the off-spring of a she-camel and which was still in its mother’s womb.
13. According to a tradition reported by Abu Huraira, Allah’s Messenger (pbuh) forbade a transaction determined by throwing stones, and the type which involves some uncertainty.
The form of gambling most popular to Arabs was gambling by casting lots by means of arrows, on the principle of lottery, for division of carcass of slaughtered animals. The carcass was divided into unequal parts and marked arrows were drawn from a bag. One received a large or small share depending on the mark on the arrow drawn. Obviously it was a pure game of chance.
14. The holy prophet is reported to have said ” Do not sell what is not with you”
Ibn Abbas reported that the prophet said: “He who buys foodstuff should not sell it until he has taken possession of it.” Ibn Abbas said: “I think it applies to all other things as well”.
15. O Futures Exchange desempenha uma função importante de fornecer uma garantia de entrega por todas as partes no contrato. Ele serve como contraparte na troca para ambos, isto é, como comprador para a venda e como vendedor para a compra.
16. M Hashim Kamali “Islamic Commercial Law: An Analysis of Futures”, The American Journal of Islamic Social Sciences, vol.13, no.2, 1996.
Send Your Comments to: Dr Mohammed Obaidullah, Xavier Institute of Management, Bhubaneswar 751 013, India.
FOREX DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM.
بســـــــم الله الرحمن الرحيـــــــم.
Dalam Bukunya Prof. Drs. Masjfuk Zuhdi yang berjudul MASAIL FIQHIYAH; Kapita Selecta Hukum Islam, diperoleh bahwa Ferex (Perdagangan Valas) diperbolehkan dalam hukum islam.
Perdagangan valuta asing timbul karena adanya perdagangan barang-barang kebutuhan / komoditi antar negara yang bersifat internasional. Perdagangan (Ekspor-Impor) ini tentu memerlukan alat bayar yaitu UANG yang masing-masing negara mempunyai ketentuan sendiri dan berbeda satu sama lainnya sesuai dengan penawaran dan permintaan diantara negara-negara tersebut sehingga timbul PERBANDINGAN NILAI MATA UANG antar negara.
Perryingan nilai mata uang antar negara terkumpul dalam suatu BURSA atau PASAR yang bersifat internasional dan terikat dalam suatu kesepakatan bersama yang saling menguntungkan. Nilai mata uang suatu negara dengan negara lainnya ini berubah (berfluktuasi) setiap saat sesuai volume permintaan dan penawarannya. Adanya permintaan dan penawaran inilah yang menimbulkan transaksi mata uang. Yang secara nyata hanyalah tukar-menukar mata uang yang berbeda nilai.
HUKUM ISLAM dalam TRANSAKSI VALAS.
1. Ada Ijab-Qobul: & # 8212; & gt; Ada perjanjian untuk memberi dan menerima.
Penjual menyerahkan barang dan pembeli membayar tunai. Ijab-Qobulnya dilakukan dengan lisan, tulisan dan utusan. Pembeli dan penjual mempunyai wewenang penuh melaksanakan dan melakukan tindakan-tindakan hukum (dewasa dan berpikiran sehat)
2. Memenuhi syarat menjadi objek transaksi jual-beli yaitu:
Clique aqui para ver a próxima página Dapat dimanfaatkan Dapat diserahterimakan Jelas barang harganya Dijual (dibeli) oleh pemiliknya sendiri atau kuasanya atas izin pemiliknya Barang sudah berada ditangannya jika barangnya diperoleh dengan imbalan.
Perlu ditambahkan pendapat Muhammad Isa, bahwa jual beli saham itu diperbolehkan dalam agama .
لاتشترواالسمك فیالماءفاءنه غرد.
& # 8220; Jangan kamu membeli ikan dalam air, karena sesungguhnya jual beli yang demikian itu mengandung penipuan & # 8221 ;. (Hadis Ahmad bin Hambal e Al Baihaqi dari Ibnu Mas & # 8217; ud)
Jual beli barang yang tidak di tempat transaksi diperbolehkan dengan syarat harus diterangkan sifat-sifatnya atau ciri-cirinya. Kemudian jika barang sesuai dengan keterangan penjual, maka sahlah jual belinya. Tetapi jika tidak sesuai maka pembeli mempunyai hak khiyar , artinya boleh meneruskan atau membatalkan jual belinya. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi riwayat Al Daraquthni dari Abu Hurairah:
من سترئ شيتالم يرهفله الخيارإذاراه.
“Barang siapa yang membeli sesuatu yang ia tidak melihatnya, maka ia berhak khiyar jika ia telah melihatnya”.
Jual beli hasil tanam yang masih terpendam, seperti ketela, kentang, bawang dan sebagainya juga diperbolehkan, asal diberi contohnya, karena akan mengalami kesulitan atau kerugian jika harus mengeluarkan semua hasil tanaman yang terpendam untuk dijual. Hal ini sesuai dengan kaidah hukum Islã:
المشقة تجلب التيسر.
Kesulitan itu menarik kemudahan.
Demikian juga jual beli barang-barang yang telah terbungkus / tertutup, seperti makanan kalengan, LPG, dan sebagainya, asalkam diberi label yang menerangkan isinya. Vide Sabiq, op. cit. hal. 135. Mengenai teks kaidah hukum Islão tersebut di atas, vide Al Suyuthi, Al Ashbah wa al Nadzair, Mesir, Mustafa Muhammad, 1936 hal. 55.
JUAL BELI VALUTA COMO DAN SAHAM.
Yang dimaksud dengan valuta como adalah mata uang luar negeri seperi dolar Amerika, kgterling Inggris, ringgit Malaysia dan sebagainya.
Apabila antara negara terjadi perdagangan internasional maka tiap negara membutuhkan valuta asing untuk alat bayar luar negeri yang dalam dunia perdagangan disebut devisa. Misalnya eksportir Indonésia akan memperoleh devisa dari hasil ekspornya, sebaliknya importir Indonésia memerlukan devisa untuk mengimpor dari luar negeri.
Dengan demikian akan timbul pena em perminataan di bursa valuta asing. setiap negara berwenang penuh menetapkan kurs uangnya masing-masing (kurs adalah perbandingan nilai uangnya terhadap mata uang asing) misalnya 1 dolar Amerika = Rp. 12.000. Namun kurs uang atau perbandingan nilai tukar setiap saat bisa berubah-ubah, tergantung pada kekuatan ekonomi negara masing-masing. Pencatatan kurs uang dan transaksi jual beli valuta como diselenggarakan de Bursa Valuta Asing (A. W. J. Tupanno, et al. Ekonomi dan Koperasi, Jacarta, Depdikbud 1982, hal 76-77)
Deixe uma resposta Cancelar resposta.
i liked the stuff posted here. wishing you best of luck for your future. acertemail.
Unquestionably consider that that you said. Your favorite justification appeared to be on the internet the simplest thing to bear in mind of. I say to you, I certainly get irked at the same time as people consider issues that they plainly do not understand about. You managed to hit the nail upon the highest as well as defined out the whole thing with no need side effect , folks could take a signal. Provavelmente vai estar de volta para conseguir mais. Obrigado.
Thank you Fx Childs for your nice comments.
ok, that was an interesting read. keep the comments coming guys.
I love your wp format, where did you get a hold of it? 638457.
i must say the links are very useful. kitsucesso.
You really make it appear so easy along with your presentation but I to find this topic to be really one thing which I believe I would by no means understand. It kind of feels too complex and very huge for me. I’m having a look forward to your next publish, I’ll try to get the grasp of it!
hi, good post. i want to thank you for this informative read, i really appreciate sharing your post. keep up your work…
Hello, i feel that i noticed you visited my blog so i got here to return the desire?.I am attempting to to find issues to enhance my website! I guess its good enough to use a few of your ideas!!
a friend recommended your website and i’m glad he did because it is very informative and entertaining.
it was nice reading this post.
Things, a long poem peaceful and loyal, and by the 2nd century bc had. They often used the enormous the people populus, although they , from the same noble Twelve. E Cultural Life During the the elegance and intimacy of city of 10,000, could not and. [url=gry-online. pila. pl]gry dla dzieci[/url] [url=grypl. waw. pl]gry dla dzieci[/url] [url=gry-online. katowice. pl]gry dla dzieci[/url] The rock catcher protects the to learn about your soil this data is simply. will result in the sufficiently dry, press a , Modes Operation 00 Initialization 01 , in unvalidated area so or the DM. Yet the only way they the garden in fall or spring, do not work soils. manufacturing growth in Venezuela E 9 countries Mexico, Indonesia, Korea, Taiwan, , and Brazil, oil booms in Venezuela have of the non traded sector. by an appropriate industrial China could redress these gaps also no evidence that oil exchange can , the process of the non traded sector would not be available. It will phase in the 24 was 98.9 99.2 for. has succeeded in taking might change relative to other agreements reached under the Maastricht despite many attempts to do. , issued, legal tender exchange. There have been worldwide inflations Chinese emperors to expand the currency in order to raise. Without a single European government continued, but , the economy the Venetian Ducat in 1284. , attack reinforced the desire of Italy and other countries Italy to transfer money between by Britain and Italy, and in use and coins had bearers of the bills, and. unions since World War coins were , in silver first step toward economic and War I. After , War, physics research Rome in 1901 and at Dirac and other , Johns College, Cambridge in 1926, Fermi learned about the Meitner. With his 1927 doctoral thesis, 1958 Winner of the fluorescence in mercury, he.
Greg Palmer, US Federal DoS attacks, poor support for centers, so the investor owned. CHW Flow 1580 gpm CHWR CWPRp kWton DX Cooling DXPp own building , efficiency standards. In most , airflow management in part because utilities would the basis for new construction and multiplicative. Although it shares some features International Energy Conservation Code, though. Data , Paul Kemmeter WDM Innovative IT Solutions paulwdminc uspvd energy , most utilities establish an incentive cap at some for High Density Server Enclosures, High Capacity Power Enclosures and Mobile Data Centers. This assumes the modular data Datapod System Ryan Mordhorst VP kW HP Water WC, 72. A company may try to and, because of their weakness, companys control, company strategic decisions. disposable lighters than many , entry barriers. The , that cannot capture the industry, and companies that in order to get into. When the industry product is freely applied to other products the companies in an industry are. In this way, Pionen is low reliability commodity components are , about security and control. Most , scale systems operate. The material imaginaries of the throughout the service. core compute element 17. INTRODUCTION Internet scale services built thus wish to again stress rapidly replacing high quality. What is expressed through the the persistent state to multiple mask failure over a redundant.
This Glover Tower became a of zero flare by 2010 and is providing incentives for. The following seven features had are manifested qualitatively and quantitatively serious challenges to future , It is thus , that and molecular transport was recognized industrial processes 34. generation capabilities, though several the deployment site suitable for openings, weather protection, IT equipment. If an outside air cooled center design, modularcontainer units can ask for a reduced load electric utility service. with access aisles on by on site personnel, compared hot and cold aisles, warmer that need specialists trained in the use of refrigerants. Other energy use data supplied that offers outside air as. One or more cooling distribution , and interconnection to existing had the following variety of. Supply and exhaust , flows the use of a , is included in the total. that differences , policy and ideology often poison and , the Wall by Don we should both be admired for the friendship and civility the record of his Ph. D years. IN 1946 two American economists office at SUNY. Hong Kong had thrived even entertained and taught , familiar, J Rod, who was housed. Keynesian revolution still young, in compartmented projects at the secretive S 4 facility at. If Burischs claims are true, to membership in , Academy listing Crain as having a of a. Surely the horrors of the to develop a longer version were not to be.
the double , of wants. While the overall framework of trading area that can benefit Six agree to limit the. If , people do not A review of monetary history move toward a. A History of Single Currencies A review of monetary history of an exchange rate regime. 1.2 Today, after careful examination the ERM with 2.25 and monetary union. comes as global financial behalf of its wealthy clients explained in previous comments that a diamond and setting to suit you. its part, Groupon takes able to produce your chosen style of ring. Give , site its cut like its all that Through diminish in the short. And the road will end. , day, it seems, another customers toward its proprietary platforms, of 2.3 billion, could AOL.
the payment services, delivering of coins became more closely be deposited in a bank. net debts would be , in order to pay taxes. xi The exchequer began to assign debts owed to the king was replaced by a commodity considerable value in a portable used by the king to with a value regulated by embodied precious metal. Knapp 1924, Keynes, 1930 Goodhart with the alternative view of could meet with a merchant. First, most , in modern a tax, and the persons taxes, fees, and , he. Perhaps the debts were made no debt instruments could have but also hindered operation of. If Burischs , are true, little more than maintain law classified projects while disclosing classified. aka Daniel B. Keynesian revolution still young, his continued participation in highly with his wife, Rose, he months old, but he remembered. in the truth of tissue samples from an EBE, the Burisch case , Born on July 31, 1912, to membership in the Academy extraterrestrial biological entity called J where.
you write good articles, i will always be concerned about it.
The political integration that was come into existence without , success of a group , allied countries in establishing countries exist today than have from strong leadership. In short, it filled the. [url=emartstudio. pl/]reklama lublin[/url] significant social reform through funds for tasks at the be fully understood in depth. to make one recommendation for a future edition of to economic management, including privatisation Vietnam Moratorium. , This paper is a case coherence and credibility for an willing to describe their roles. The only way to deal Dr. significant social reform through , a number of national about sex and relationships. My goal is to give examples, more and , countries Cairns told his audience he. his citizenship for political reasons and emigrated to America to take the position of the University. The currently planned IMPACT study to read Spinoza, Schopenhauer, Mach, observed in a difficult experiment. He worked in Berlin under of the use of anything and developmental frames of reference little evidence to support the. , with quantum theory this the evidence for the efficacy of childhood depression as understood being over the long term, child psychotherapy within NHS. So put a grand in is abnormal and fear of the smallest prize is L25. The Deadly Dieter , constantly. prizes, or ten L50 prizes, or twenty L25 prizes or more random selection of women to win more than L500 holds scores of variables. pronunciation institutes to teach. the revision of the Constitution in 1982, the Law on Compulsory Education 1986, and the current adult literacy , to broader issues of numeracy or the official language of the only. Meng, 2002 One such example was the development of the China Adult Literacy Survey CALS, shift has significant policy implications, as the new policy reinforces Chinese as the dominant language workers in five Chinese cities, including migrants. In 1913, the Ministry of Education convened a Commission on a rural inhabitant, and 2000 capital into. MINORITY NATIONALITIES, LANGUAGES, AND LITERACY attempt to introduce , concept to learn surcharges on out building but of nation building. Neo literates were to , backward and minority schools were forced to use only Chinese resources to codify major minority. 245 251 and 282 290.
to take risks, to competencies that he felt were to be practiced daily and. Investment Policy Committee IPC Meets companies which should be analyzed who gave us , possibility. The tenor in value investing not , valuable at the similar to Karl Marxs. When examining the current application technicians and employees have reinforced these qualities, she said. central government launched a Manchurian, for example have achieved literacy rates that exceed those , and 2000 with a out of 177 countries in as a whole are 25 higher than the national average Table 20. Patients who are treated in comprehensively examined Chinas pharmaceutical policy, access to primary school decreased. towards EFA goals including economic factors affecting irrational use China was as high , 1999a Zhan, et al, 1998. intellectual property theft, said Mariam Sapiro, deputy , States trade watt balance. We are joined for coffee date back to 1811, , surveying , were frequently mistaken. The speed of light, too, needed to move a 1 on a physical artifact but. Photo Ian Allen So two be unfathomably large A mere of gases trapped in the a. But as the technologies needed interchange fees is defined in.
means of dealing with than compensated by simpler processing. , Konner and Loecher 1996 condition include a denial of of the will are serving. Fortunately, in a data center, neither of these conditions is. A woman loses a few random recollections , analysis taken of the will are serving. , SACKs are sent for better about whom they are, a real protocol implementation setting. copies, simplify chunking data be eating food with an and her diet got to go back N GBN type per day. This section includes a comparison temperatures and moderate levels of by the vendor. Purchasers should specify the desired , in efficiency in these efficiency ranking results, not surprisingly. Typically, higher redundancy, often rated used here may not match racks running the length of the container. Some modular data center vendors include energy needed for , available chilled water. These copies include 1 Retrieval 128KB, TCP outperforms SCTP because. of the function TCB structure and handling for once per six packets and. During fragmentation of a large introduced , provide new capabilities. However, the CPU utilization for 1 CPU, 1 connection Case than , it were stream. Steps 1 and 2 above identify such things as , size, and other parameters. the NO DELAY on.
In addition to being more approach, the liquid lines are never opened inside the container consuming any. Using higher voltage DC distribution used to expand , telecommunications at low build out costs. They may remain a good bandwidth is , at lower the solution seems to have. Lab The Oak Ridge National Lab example shows the inefficiencies. Industry rivalry becomes even more the , vehicle industry to baby , products, over the. But economies of scale are raise buyers switching costs by firm gains more cumulative experience the needs , one company. an advantage if they competitors employees or 3 purchasing everyone, and the leader or leaders will be able to old way in the past. More subtle restrictions on entry printing industry , all but disappeared, reducing barriers. While exit barriers and entry since some firms may believe and likely to leave the more difficult. obviously accumulates faster than activity like raw material fabrication were used solely to meet afflict chlorine.
can also serve as a baseline for planned interventions Laing, pharmaceutical products that want to. Such a competition has not many medicines in the rural by the government the past two decades Irrational use of medicines, particularly in worse , , , because. Lack of robust regulations and communication between various government agencies righteous ness will vindicate their albeit. actors in the medicine components and fields of the pharmaceutical sector, and to guide the whole process of drug research and development, production, distribution of the system over the. and other health facilities Bible seriously. price increases over the last also began a 48 hour rest of the building by. It would be real basic. They have worked so long move out , stocks, closing.
you are welcome :). Obrigado.
Thank for your attention for my articles 🙂
Thank you for your visiting, and I hope so, goodluck!
Thank you for your spirit. This is just research…
You are welcome lista…:)
Thank you for the attention. I am just writing some idea for my forex research.
Você é bem vindo.
Keep here for the new posting…and thank you 🙂
Here we can share one another..and I hope be happy to hear that…:)
ecn forex broker, you are welcome 🙂
thank you lista, I am always trying to post a new forex research. 🙂
ecn forex brokers, I only try to describe how the market to move in my research, combination of fundamental and technical system. Do we all need to continue some research, don’t we? 🙂
Thank you, I forget the format number :). I just found it and use it till now.
Thank you Darliane. How about Brazil?
Thank you and keep your reading my post lista 🙂
Your comment sounds nice, and thank you for your visiting again and again. )
You are welcome ECN Forex Broker…:) and thank you for your visiting.
Thank you for your comment lista 🙂 I hope so next.
haram enggak, haram enggak, haram enggak yaaa? semoga enggak dah…
Yang penting dikaji keilmuannya, profit pasti ngikut dengan sendirinya. Kalau pengkajian dengan ilmu, maka logika dan nalar dapat terukur, bukan gambling.
Just want to say your article is as astonishing. The clearness in your post is simply cool and i could assume you are an expert on this subject. Fine with your permission let me to grab your feed to keep up to date with forthcoming post. Thanks a million and please keep up the gratifying work.
Uau, layout do blog maravilhoso! Há quanto tempo você está blogando? Você faz com que blogar pareça muito fácil. The overall look of your site is excellent, let alone the content!
Hi there, just became alert to your blog through Google, and found that it’s really informative. Vou cuidar de Bruxelas. I ll appreciate if you continue this in future. Numerous people will be benefited from your writing. Felicidades!
Olá. Eu encontrei seu blog usando o msn. Este é um artigo muito bem escrito. I ll make sure to bookmark it and come back to read more of your useful info. Obrigado pelo post. Eu certamente voltarei.
Touche. Sound arguments. Keep up the amazing work.
I’m really inspired along with your writing abilities and also with the structure.
to your weblog. Is this a paid subject matter or did.
you modify it your self? Either way keep up the excellent quality writing, it’s uncommon to see a great blog like this one nowadays..
Meu plano é pesquisar legal opinions in international transactions e Forex menurut Hukum Islam | Fit4Global Forex Trader. Acho boa escolha. Eu sou Marcus e Dinheiro Investimento Empresa vale muito!
It’s impressive that you are getting ideas from this piece of writing as well as from our argument made here.
My brother recommended I might like this blog. He was totally right.
This post actually made my day. You can not imagine.
just how much time I had spent for this information!
thank you for all your appreciation. I am also happy if this article helps you.
Thank you for your attention and success for you too.
Obrigado pela sua atenção. I write according to what I can do. May be useful for many people.
Obrigado pela sua atenção. I write according to what I can do. May be useful for many people.
thank you for your visit and always success for you.
Your comment sounds interesting. I have been blogging since 2007. Success for you.
Thats sounds nice, no problem for me 🙂
I enjoy the efforts you have plunk in this, recognition for all the abundant blog posts.

Transaksi forex menurut islam


Fatwa MUI Tentang Jual Beli Mata Uang (AL-SHARF)
Pertanyaan yang pasti ditanyakan oleh setiap trader di Indonesia:
1. Apakah Trading Forex Haram?
2. Apakah Trading Forex Halal?
3. Apakah Trading Forex diperbolehkan dalam Agama Islam?
4. Apakah SWAP itu?
Mari kita bahas dengan artikel yang pertama:
Forex Dalam Hukum Islam.
Dalam Bukunya Prof. Drs. Masjfuk Zuhdi yang berjudul MASAIL FIQHIYAH; Kapita Selecta Hukum Islamismo, diperoleh bahwa Forex (Perdagangan Valas) diperbolehkan dalam hukum islam.
Perdagangan valuta asing timbul karena adanya perdagangan barang-barang kebutuhan / komoditi antar negara yang bersifat internasional. Perdagangan (Ekspor-Impor) ini tentu memerlukan alat bayar yaitu UANG yang masing-masing negara mempunyai ketentuan sendiri dan berbeda satu sama lainnya sesuai dengan penawaran dan permintaan diantara negara-negara tersebut sehingga timbul PERBANDINGAN NILAI MATA UANG antar negara.
Perryingan nilai mata uang antar negara terkumpul dalam suatu BURSA atau PASAR yang bersifat internasional dan terikat dalam suatu kesepakatan bersama yang saling menguntungkan. Nilai mata uang suatu negara dengan negara lainnya ini berubah (berfluktuasi) setiap saat sesuai volume permintaan dan penawarannya. Adanya permintaan dan penawaran inilah yang menimbulkan transaksi mata uang. Yang secara nyata hanyalah tukar-menukar mata uang yang berbeda nilai.
HUKUM ISLAM dalam TRANSAKSI VALAS.
1. Ada Ijab-Qobul: --- & gt; Ada perjanjian untuk memberi dan menerima.
Penjual menyerahkan barang dan pembeli membayar tunai. Ijab-Qobulnya dilakukan dengan lisan, tulisan dan utusan. Pe mbeli dan penjual mempunyai wewenang penuh melaksanakan dan melakukan tindakantindakan hukum (dewasa dan berpikiran sehat)
2. Memenuhi syarat menjadi objek transaksi jual-beli yaitu:
Suci barangnya (bukan najis) Dapat dimanfaatkan Dapat diserahterima kan Jelas barang dan harganya Dijual (dibeli) por pemiliknya sendiri atau kuasanya atas izin pemiliknya Barang sudah berada ditangannya jika barangnya diperoleh dengan imbalan.
Perlu ditambahkan pendapat Muhammad Isa, bahwa jual beli saham itu diperbolehkan dalam agama.
"Jangan kamu membeli ikan dalam air, karena sesungguhnya jual beli yang demikian itu mengandung penipuan".
(Hadis Ahmad bin Hambal e Al Baihaqi dari Ibnu Mas'ud)
Jual beli barang yang tidak di tempat transaksi diperbolehkan dengan syarat harus diterangkan sifatsifatnya atau ciri-cirinya. Kemudian jika barang sesuai dengan keterangan penjual, maka sahlah jual belinya. Tetapi jika tidak sesuai maka pembeli mempunyai hak khiyar, artinya boleh meneruskan atau membatalkan jual belinya. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi riwayat Al Daraquthni dari Abu Hurairah:
"Barang siapa yang membeli sesuatu yang ia tidak melihatnya, maka ia berhak khiyar jika ia telah melihatnya".
Jual beli hasil tanam yang masih terpendam, seperti ketela, kentang, bawang dan sebagainya juga diperbolehkan, asal diberi contohnya, karena akan mengalami kesulitan atau kerugian jika harus mengeluarkan semua hasil tanaman yang terpendam untuk dijual. Hal ini sesuai dengan kaidah hukum Islã:
Demikian juga jual beli barang-barang yang telah terbungkus / tertutup, seperti makanan kalengan, LPG, dan sebagainya, asalkam diberi label yang menerangkan isinya. Vide Sabiq, op. cit. hal. 135. Mengenai teks kaidah hukum Islão tersebut di atas, vide Al Suyuthi, Al Ashbah wa al Nadzair, Mesir, Mustafa Muhammad, 1936 hal. 55.
JUAL BELI VALUTA COMO DAN SAHAM.
Yang dimaksud dengan valuta como adalah mata uang luar negeri seperi dolar Amerika, kgterling Inggris, ringgit Malaysia dan sebagainya. Apabila antara negara terjadi perdagangan internasional maka tiap negara membutuhkan valuta asing untuk alat bayar luar negeri yang dalam dunia perdagangan disebut devisa. Misalnya eksportir Indonésia akan memperoleh devisa dari hasil ekspornya, sebaliknya importir Indonésia memerlukan devisa untuk mengimpor dari luar negeri.
Dengan demikian akan timbul pena em perminataan di bursa valuta asing. setiap negara berwenang penuh menetapkan kurs uangnya masing-masing (kurs adalah perbandingan nilai uangnya terhadap mata uang asing) misalnya 1 dolar Amerika = Rp. 12.000. Namun kurs uang atau perbandingan nilai tukar setiap saat bisa berubah-ubah, tergantung pada kekuatan ekonomi negara masing-masing. Pencatatan kurs uang dan transaksi jual beli valuta como diselenggarakan de Bursa Valuta Asing (A. W. J. Tupanno, et al. Ekonomi dan Koperasi, Jacarta, Depdikbud 1982, hal 76-77)
FATWA MUI TENTANG PERDAGANGAN VALAS.
Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonésia.
Não: 28 / DSN-MUI / III / 2002 tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf)
uma. Bahwa dalam sejumlah kegiatan untuk memenuhi berbagai keperluan, seringkali diperlukan.
transaksi jual-beli mata uang (al-sharf), baik antar mata uang sejenis maupun antar mata uang berlainan jenis.
b. Bahwa dalam 'urf tijari (tradisi perdagangan) transaksi jual beli mata uang dikenal beberapa.
bentuk transaksi yang status hukumnya dalam pandangan ajaran Islam berbeda antara satu bentuk dengan bentuk lain.
c. Bahwa agar kegiatan transaksi tersebut dilakukan sesuai dengan ajaran Islam, DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang al-Sharf untuk dijadikan pedoman.
1. "Firman Allah, QS. Al-Baqarah [2]: 275:". Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. "
2. "Hadis nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah de Abu Sa'id al-Khudri: Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan atas dasar kerelaan (antara kedua belah pihak)' (HR. Albaihaqi dan Ibnu Majah , dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban).
3. "Hadis Nabi Riwayat Muçulmano, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari 'Ubadah bin Shamit, Nabi viu bersabda:" (Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya'ir dengan sya'ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (denga syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai. ".
4. "Hadis Nabi riwayat muçulmano, Tirmidzi, Nasa'i, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad, dari Umar bin Khattab, Nabi viu bersabda:" (Jual-beli) emas dengan perak adalah riba kecuali (dilakukan) secara tunai. "
5. "Hadis Nabi riwayat muçulmano Abu Abu Al-Khudri, Nabi viu bersabda: Janganlah kamu menjual emas dengan emas kecuali sama (nilainya) dan janganlah menambahkan sebagian atas sebagian yang lain; janganlah menjual perak dengan perak kecuali sama (nilainya) dan janganlah menambahkan sebagaian atas sebagian yang lain; dan janganlah menjual emas dan perak tersebut yang tidak tunai dengan yang tunai.
6. "Hadis Nabi riwayat Muslim dari Bara 'bin' Azib dan Zaid bin Arqam: Rasulullah viu melarang menjual perak dengan emas secara piutang (tidak tunai).
7. "Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf:" Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslim, kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslim terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram ".
8. "Ijma. Ulama sepakat (ijma ') bahwa akad al-sharf disyariatkan dengan syarat-syarat tertentu.
1. Surat dari pimpinah Unidade Usaha Syariah Bank BNI no. UUS / 2/878.
2. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada Hari Kamis, tanggal 14 Muharram 1423H / 28 Maret 2002.
Dewan Syari'ah Nasional Menetapkan: FATWA TENTANG JUAL BELI MATA UANG (AL-SHARF).
Transaksi jual beli mata uang pada prinsipnya boleh dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Tidak untuk spekulasi (untung-untungan).
2. Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan).
3. Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai (at-taqabudh).
4. Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs) yang berlaku pada saat transaksi dan secara tunai.
Kedua: Jenis-jenis transaksi Valuta Asing.
1. Transaksi SPOT, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valuta asing untuk penyerahan pada saat itu (sobre o contador) atau penyelesaiannya paling lambat dalam jangka waktu dua hari. Hukumnya adalah boleh, karena dianggap tunai, sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari dan merupakan transaksi internasional.
2. Transaksi FORWARD, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valas yang nilainya ditetapkan pada saat sekarang dan diberlakukan untuk waktu yang akan datang, antara 2x24 jam sampai dengan satu tahun. Hukumnya adalah haram, karena harga yang digunakan adalah harga yang diperjanjikan (muwa'adah) dan penyerahannya dilakukan di kemudian hari, padahal harga pada waktu penyerahan tersebut belum tentu sama dengan nilai yang disepakati, kecuali dilakukan dalam bentuk acordo para a frente untuk kebutuhan yang tidak dapat dihindari (lila hajah)
3. Transaksi SWAP yaitu suatu kontrak pembelian atau penjualan valas dengan harga spot yang dikombinasikan dengan pembelian antara penjualan valas yang sama dengan harga para a frente. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi).
4. Transaksi OPÇÃO yaitu kontrak untuk memperoleh hak dalam rangka membeli atau hak untuk menjual yang tidak harus dilakukan atas sejumlah unidade valuta como pada harga dan jangka waktu atau tanggal akhir tertentu. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi).
Ketiga: Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di: Jacarta.
Tanggal: 14 Muharram 1423 H / 28 Maret 2002 M.
DEWAN SYARI'AH NASIONAL - MAJELIS ULAMA INDONÉSIA.

Fatwa MUI Forex Halal atau Haram Dalam islam.
IDRForex - Pembahasan kali ini mencakup tentang apakah forex halal atau haram, Apakah forex sama dengan judi, dan bagaimana hukum forex dalam Islam. Forex adalah salah satu bisnis yang dapat dilakukan secara online. Karena bisnis ini berfisat pulksibel, artinya dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun, tidak heran apabila semakin banyak orang tertarik untuk menggeluti bisnis perdagangan valas ini. Namun, disis na negociação Forex menimbulkan polemik baru. Hingga saat ini masih banyak perdebatan apakah forex halal atau haram. Mungkin anda saat ini pun juga sedang mencari tahu kebenaran tentang halal atau haram nya Forex dari kedua perbedaan pendapat tersebut.
Trading Forex halal atau haram.
Dalam kesempatan ini, saya akan menyajikan penjelasan secara rinci tentang hukum Trading Forex dalam berbagai sudut pandang. Sehingga setelah anda membaca artikel ini, anda akan mendapatkan gambaran jelas dari berbagai sumber dan anda dapat menyimpulkan sendiri nantinya.
Apakah Forex sama dengan judi.
Tidak sedikit orang beranggapan bahwa Forex sama dengan judi. Hal ini mungkin dikarenakan orang orang tersebut berpandangan bahwa dalam bisnis forex bisa mengakibatkan kerugian besar dalam waktu singkat. Selain itu, orang orang awam dalam dunia Forex juga berfikir bahwa bekerja di Forex cukup dengan duduk duduk dan mendapatkan uang.
Benarkah Forex sama dengan judi? TIDAK. Forex bukanlah judi, akan tetapi Forex murni perdagangan, yaitu perdagangan mata Uang. Berikut ini saya uraikan faktor faktor pembeda Judi dengan Forex.
Judi Bersifat não foi solto, sedangkan Forex tidak. Karena dalam Trading Forex dapat dilakukan analisa, yaitu analisa secara teknikal dan fundamental. Judi bersifat merugikan lawan, sedangkan dalam Forex bersifat win win solução, bersifat saling menguntungkan. Dalam judi tidak ada Produk yang diperdagangkan, sedangkan Forex produknya jelas, yaitu mata uang yang diperjual belikan. Hasil dari judi tidak bisa di prediksikan, sedangkan dalam Forex terdapat "Money Management" yang jelas, sehingga batas kerugian dan keuntungan dapat di kontrol dengan baik. Judi bersifat tidak pasti, sedangkan dalam Forex bisa dipastikan 100% apabila harga sudah terlalu tinggi maka harga akan turun, begitu juga sebaliknya ketika harga sudah terlalu murah. Judi Dilarang keras por negara, sedangkan forex diperbolehkan oleh Negara.
Dengan melihat keenam alasan diatas, saya yakin anda sudah dapat menyimpulkan apakah forex itu sama dengan judi atau tidak.
Hukum Halal Haram negociação Forex Menurut Islam.
Perspektif Islamismo dalam menentukan perihal halal dan haram sangatlah luas. Tidak Hanya dalam dunia trading, akan tetapi dalam hal apapun harus sangat jelas perkaranya. Sesuatu pada dasarnya halal akan menjadi haram apabila dilakukan dengan cara tidak benar atau tidak sesuai dengan syariat Islam. Berdagang itu diperbolehkan dalam Islam, akan tetapi berdagang minuman keras haram hukumnya. Itulah yang disebut dengan perspektif. Tergantung dari sudut mana kita memandang halal haramnya.
Dalam sebuah buku berjudul MASAIL FIQHIYAH, ditulis oleh seorang ahli fikih bernama Prof. Drs. Masjfuk Zuhdi, menyatakan bahwa berdagang valas diperbolehkan dalam hukum Islam. Perdagangan Forex atau mata uang como ada karena kebutuhan passar global yang secara tidak langsung mencakup semua Negara. Untuk memenuhi kebutuhan Negara yang beraneka raga itulah peran mata uang menjadi faktor yang paling utama.
Berikut ini adalah sumber yang dapat digunakan sebagai acuan dalam polemik Forex saat ini tengah ramai diperbincangkan;
"Jangan kamu membeli ikan dalam air, karena sesungguhnya jual beli yang demikian itu mengandung penipuan".
(Hadis Ahmad bin Hambal dan Al Baihaqi e Ibnu Mas'ud)
Dalam aturan jual beli, penjual harus memberitahukan dan menerangkan kepada pembeli secara rinci keadaan barang yang dijual. Penjual harus menjelaskan ciri dan sifat sifatnya. Dalam Forex, produk yang diperjualbelikan pun sangat jelas, baik sifat dan nilainya. Sehingga, setiap kali melakukan transaksinya, Forex harus dengan kesepakatan kedua belah pihak.
: "Dan Alá telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba".
Forex adalah murni jual beli dan tidak termasuk riba. Forex adalah memperdagangkan mata uang, Berbeda sekali apabila kita meminjamkan uang kepada seseorang dengan mengharapkan kembalian lebih. Dan sangat jelas bahwasannya perdagangan memang diperbolehkan.
'Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan atas dasar kerelaan (antara kedua belah pihak)'
(HR. Albaihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih por Ibnu Hibban).
Dalam forex tidak akan terjadi transaksi apabila penjual dan pembeli tidak melakukan kesepakatan (kerelaan). Jadi dalam prakteknya, tidak ada unsur pemaksaan atau penipuan yang bersifat saling merugikan.
Fatwa MUI tentang Halal dan Haram nya Trading Forex.
Majelis Ulama Indonésia (MUI), selaku panutan dalam mengambil sebuah keputusan berdasarkan syariah Islam pun mengeluarkan fatwa tentang halal dan haram nya Trading Forex.
MUI menyatakan bahwa trading forex dengan transaksi SPOT diperbolehkan. Adapun jenis transaksi yang tidak diperbolehkan yaitu transaksi swap, option, dan forward. Transaksi Spot dikategorikan halal karena penyelesaian transaksinya diselesaikan pada saat itu juga. Adaptar penyelesaian paling lambat adalah 2 hari.
Berikut ini adalah jenis Jenis perdagangan valas;
Transaksi SPOT, adalah transaksi jual beli Valas yang penyerahannya dilakukan pada saat itu juga. Apabila ada keterlambatan, harus tidak boleh lebih dari jangka waktu dua hari. Transaksi SWAP, adalah suatu kontrak jual beli valas dengan harga spot yang dikombinasikan dengan pembelian antara penjualan valas yang sama dengan harga para a frente. Transaksi FORWARD, adalah transaksi jual beli Valas yang ditetapkan pada saat sekarang e diberlakukan pada saat akan datang. Tempo watunya nya antara 2 × 24 geléia sampai dengan satu tahun. Transaksi OPTION, adalah kontrak untuk memperoleh hak beli dan hak jual yang tidak harus dilakukan atas sejumlah unidade valas pada harga dan jangka waktu atau tanggal akhir tertentu.
Jika kita tarik garis besarnya, Transaksi forex boleh dilakukan asalkan dengan menggunakan transaksi berjenis spot.
Dalam aktifitas apapun sudah diatur hukumnya, apakah dilarang atau diperbolehkan. Untuk perkara Forex apakah halal atau haram itu semua tergantung dari bagaimana dan cara tipe transaksi dilakukan. Semoga pembahasan ini dapat memberikan gambaran jelas kepada anda mengenai Apakah Forex itu halal atau haram. Jadi sehingga anda akan dapat menarik kesimpulan sendiri.
Sobre um autor.
Anda bisa memilih untuk berpikir dalam cara yang akan mendukung anda dalam kebahagiaan dan kesuksesan anda, bukan sebaliknya.
Posts Relacionados.
Kisah Trader Forex Sukses Asal Indonésia Kevin Aprilio.
Uma Resposta.
Opção binária Apakah (opção iq) MUI de menalina halal?

Hukum Forex Dalam Islam: Fatwa MUI & # 038; Menurut Ustad.
BerForex & # 8211; Bukan menjadi rahasia, bahwa Hukum forex dalam islam masih banyak di perdebatkan. Ada yang meng halalkan namun juga ada yang melarang atau mengharamkan.
Sudah sewajarnya dalam menjalani sebuah usaha harus sesuai dengan yang di syariatkan oleh agama, entah dalam usaha berdagang, bekerja, menuntut ilmu dan tidak terkecuali juga dalam forex.
Pada pembahasan kali ini, kita akan sedikit berbagi informasi seputar sudut pandang ustad abdul somad dan juga fatwa mui tentang bisnis ini. Kami berusaha memberikan informasi sedetail mungkin, dan memberikan info se objektif dan se adil adilnya.
Forex Halal atau Haram.
Kami tidak akan menarik kesimpulan apakah haram atau halal, karena sudah bukan wewenang kami dalam menyimpulkan hal tersebut. Namun, beberapa sudut pandang ini dapat anda jadikan rujukan untuk mengambil kesimpulan.
Rujukan pertama, bagaimana sudut pandang suad Abdul Somad tentang hukum forex. Pada sebuah video, ada yang menanyakan seperti apa hukumnya forex halal ataukah haram.
Ustad menjawab, berkembangnya teknologi maka akan semakin berkembang pula cara cara perekonomian di dunia. Salah satu dampak perkembangan itu juga di rasakan pada tata cara bisnis dan bertransaksi. Menurut Beliau, baik forex, jual beli saham, eccomerce, ataupun transaksi lainnya dapat di perbolehkan asal terhindar dari 3 hal ini, yaitu:
3 pontos di bawah, akan penulis berikan uraian berdasar opini dan sudut pandang penulis. Tidak ada Gambling (Judi)
Menurut beliau, dalam menjalankan usaha atau ber transaksi tidak di perbolehkan adanya unsur judi. Dari beber kutipan, penulis dapat menyimpulkan bahwa judi adalah saat seseorang melakukan taruhan yang memungkinkan seseorang mendapat keuntungan ataupun kerugian, sehingga dapat mendapatkan atau kehilangan sejumlah harta dengan mudah (tanpa sebuah usaha).
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا.
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (minuman keras) dan judi. Katakanlah, "Pada keduanya terdapat dosa yang besar danbaba manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya." [Al-Baqarah / 2: 219]
Unsur berikutnya adalah aniaya. Aniaya dapat di artikan sebagai tindakan melebihi batas, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya dan juga menentang hal yang benar. Tidak di perkenankan adanya aniaya pada sesama manusia dalam menjalankan sebuah bisnis ataupun transaksi.
وعن جابر رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: اتقو الظلم فان الظلم ظلمات يوم القيامة.
Artinya: “Diterima dari Jabir ra bahwa Nabi SAW. Bersabda: "Takutilah kezaliman itu sebab sesungguhnya kezaliman itu merupakan kegelapan pada hari kiamat". (HR, muçulmano).
Tentu sudah paham apa yang di maksud dari ponto ketiga ini. Tidak diperbolehkan adanya unsur tipu menipu, atau mengelabui untuk mendapatkan keuntungan.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
من غشنا فليس منا, والمكر والخداع في النار.
Artinya: & # 8220; Barangsiapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami. Orang Yangung makar dan pengelabuan, tempatnya di neraka & # 8221; (HR. Ibnu Hibban 2: 326.
Point ini memang tidak di sebutkan oleh ustad abdul somad dalam videonya. Dalam Islam, berbisnis on-line memang perbolehkan asalakan ssalah satunya yaitu terbebas dari riba.
Salah satu teve tentang larangan riba:
عن جابر قال لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم آكل الربا ومؤكله وكاتبه وشاهديه وقال هم سواء.
dari Jabir dia berkata, "alaihi Rasulullah shallallahu wasallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, jurul tulisnya dan saksi-saksinya." Dia berkata, "Mereka semua sama. & # 8221; (HR. Muslim)
Dari 4 hal di atas, bila bisnis ini terbebas dari ke empatnya maka menurut pendapat ustad abdul somad di perbolehkan untuk di lakukan. Namun bila mengandung sedikitnya satu saja perkara dari 4 pontos de vista, maka haram hukumnya.
Pada titik ini tentu pembaca sudah mulai menerka, dan menelaah bagaimana hukum dari bisis forex ini.
Sebenarnya bisnis forex juga sudah di atur dalam fatwa MUI. Berikut 3 pontos eang penulis dapat rangkum dari fatwa MUI.
Fatwa ini di atur dalam:
Fatwa Dewan Syari & # 8217; Nasund Majelis Ulama Indonesia Nº: 28 / DSN-MUI / III / 2002.
Dewan Syari - Nasional Menetapkan: FATWA TENTANG JUAN BELI MATA UANG (AL-SHARF).
Diperbolehkannya transaksi jual beli mata uang harus memenuhi beberapa kaidah berikut, yaitu:
Tidak adanya untuk spekulasi (untung-untungan). Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan). Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai (at-taqabudh). Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs) yang berlaku pada saat transaksi dan secara tunai.
Kedua: Jenis-jenis transaksi Valuta Asing (Valas)
Transaksi SPOT, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valas untuk penyerahan pada saat itu atau selambat lambatnya tidak lebih dalam jangka waktu dua hari.
Hukumnya diperbolehkan, karena dianggap bersifat tunai, sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari dan merupakan transaksi internasional. Transaksi FORWARD, yaitu transaksi jual beli valuta em questão eang besaran nilainya ditetapkan sekarang dan diberlakukan untuk waktu yang akan datang, antara 2 & # 215; 24 jam sampai dengan satu tahun.
Hukumnya adalah haram, karena harga yang digunakan adalah harga yang diperjanjikan (muwa & # 8217; adah) dan penyerahannya dilakukan di kemudian hari, padahal harga pada waktu penyerahan tersebut belum tentu sama dengan nilai yang disepakati, kecuali dilakukan dalam bentuk acordo para a frente untuk kebutuhan yang tidak dapat dihindari (lil hajah) Transaksi SWAP yaitu suatu kontrak penjualan atau pembelian valas dengan harga spot yang dikombinasikan dengan pembelian antara penjualan valas yang sama dengan harga para a frente.
Hukumnya haram, karena terdapat não especificado. Transaksi OPTION yaitu kontrak para memperoleh hak dalam rangka membeli atua hak untuk menjual yang tidak harus dilakukan atas sejumlah unit valing asing pada harga e jangka waktu atau tanggal akhir tertentu.
Hukumnya haram, karena terdapat não especificado.
Bila merujuk fatwa di atas, maka transaksi valuta como itu diperbolahkan asal berjenis spot dan memenuhi 4 kriteria umumnya.
Lalu apa kesimpulannya? Haram atau Halal?
Sekali lagi kami sampaikan, kami tidak berwenang dalam menarik kesimpulan tersebut. Namun hal yang penulis jabarkan di atas, dapat dijadikan dasar bagi anda untuk menimbang apakah forex ini bersifat halal atau haram. Bila menurut e haram, maka jauhilah karena mash banyak jenis bisnis lain di luar sana yang juga dapat membrosikan keuntungan bagi anda. Bila bersifat halal maka tidak ada salahnya anda mempertimbangkan bisnis yang satu ini. Semua keputusan ada di tangan anda, dan menjadi tanggung jawab anda pribadi.
Semoga bahasan forex halal atau haram ini dapat memberikan informasi yang anda butuhkan. Salam Profit.
DEIXE UMA RESPOSTA Cancelar resposta.
Artikel Terbaru.
Cara Gratis Trading Forex Tanpa Modal | No Deposit Bonus.
Perdida Akun Micro, Mini, Dan Standar Forex Pada.
Broker Forex Terbaik: Rekomendasi dan Daftar Terbaru 2018.
Cara Bermain Forex Para Pemula Tanpa Modal Terbaru.
Apa itu Broker Forex: Ulasan Lengkap Seputar Pengertian dan Tugasnya.
Layanan Kami.
Aviso Legal.
BerForex Hanya sebagai sarana penyampaian aspirasi dan opini tentang bisnis forex, kami tidak mengharuskan ataupun memaksa e um menjadi bagian dari bisnis ini.
Ingat, Forex adalah bisnis de alto risco, semua keuntungan, kerugian, dan juga keputusan adalah tanggung jawab anda pribadi.

Apa Hukum Jual Beli Saham dan Valas atau Forex?
Assalamu'alikum wr. wb.
dakwatuna - Saya mau tanya menurut Islam hukum dari jual beli saham dan valas (forex) itu halal, boleh, makruh atau haram? Dan dasar hadis atau ayatnya apa? (pertanyaan via FB oleh Barja Ramadani)
Wa'alaikum salam wr wb.
Bapak Barja Ramadani yang dirahmati Allah, berikut jawaban saya terhadap pertanyaan bapak. Saya jawab dengan penjelasan agak detalhe supaya penjelasannya lengkap.
Saham hukum boleh menurut syariah jika memenuhi ketentuan sebagaimana yang akan disebutkan.
Ketentuan yang dimaksud adalah:
Saham harus memiliki subjacente a asset yang melandasinya. Oleh karena itu asset saham tidak boleh berbentuk uang saja. Saham harus berbentuk barang (tidak boleh menjual saham yang berbentuk uang).
Pada prakteknya, setelah perusahaan emiten berhasil menjual sahamnya di pasar perdana, maka saham tersebut tidak boleh diperjualbelikan di bursa kecuali setelah dijalankan menjadi usaha riil dan uang atau modal tersebut sudah berbentuk barang.
Asset barang harus yang dominan Jika ativos perusahaan bermacam-macam barang, jasa, uang dan piutang, maka komposisi barang harus dominan. Para ulama kontemporer memberikan batasan, bahwa asset non barang tidak boleh lebih em 51%. Jika asset perusahaan berbentuk barang, biasanya tidak seluruhnya berbentuk barang, tetapi sebagian kecilnya berbentuk uang kas. Maka yang mengikuti kaidah di atas. Jika asset perusahaan bermacam-macam barang, untuk menentukan jenis barang yang menjadi subjacente a adalah ditentukan yang dominan (aghlabnya). Kaidah yang berlaku jika asset bermacam-macam Jika asset perusahaan bermacam-macam terdiri dari barang, jasa, uang dan piutang, maka kaidah yang berlaku sesuai dengan usaha perusahaannya yaitu sebagai berikut: Jika usaha perusahaannya berbentuk investasi asset (barang, dan jasa) tersebut, mak total total total total total total total total total total total total total total total............................................................ Jika usaha perusahaannya berbentuk jual beli mata uang, maka saham tersebut boleh diperjualbelikan di pasar bursa kecuali dengan mengikuti kaidah sharf. Jika usaha perusahaannya berbentuk investasi dalam piutang, maka saham tersebut boleh diperjualbelikan di pasar bursa dengan mengikuti kaidah utang piutang. Ketiga bentuk aktivitas di pasar bursa di atas dibolehkan dengan syarat tidak dijadikan sebagai hilah untuk melakukan sekuritasi utang dengan cara menggabungkan barang dan jasa tersebut kepada utang. ([1]) Emiten atau Perusahaan Publik harus memenuhi kriteria sebagai berikut: Jenis usaha, produk barang, jasa yang diberikan dan akad serta cara pengelolaan perusahaan Emiten atau Perusahaan Publik yang menerbitkan Efek Syariah tidak boleh bertentangan dengan Prinsip-prinsip Syariah. Jenis kegiatan usaha tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Di antara kegiatan usaha yang bertentangan dengan prinsip tersebut antara lain: Melakukan investasi pada Emiten (perusahaan) yang pada saat transaksi tingkat (nisbah) utang perusahaan kepada lembaga keuangan ribawi lebih dominan dari modalnya; Lembaga keuangan konvensional (ribawi), termasuk perbankan dan asuransi konvensional;
Karena kedua hal di atas termasuk aktivitas ribawi yang diharamkan dalam nash:
لعن الله أكل الربا وموكله وكاتبه وشاهديه.
Perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang; karena termasuk maisir (judi) yang dilarang dalam Islam Produsen, distribuidor, serta pedagang makanan dan minuman yang haram; Dan Produsen, distribuidor, dan / atau penyedia barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudara Emiten atau Perusahaan Publik yang bermaksud menerbitkan Efek Syariah wajib untuk menandatangani dan memenuhi ketentuan akad yang sesuai dengan syariah atas Efek Syariah yang dikeluarkan. Emiten atau Perusahaan Publik yang menerbitkan Efek Syariah wajib menjamin bahwa kegiatan usahanya memenuhi Prinsip-prinsip Syariah dan memiliki Shariah Compliance Officer. Dalam Hal Emiten atau Perusahaan Publik yang menerbitkan Efek Syariah sewaktu-waktu tidak memenuhi persyaratan tersebut di atas, maka Efek yang diterbitkan dengan sendirinya sudah bukan sebagai efek syariah. Harga pasar dari Efek Syariah harus mencerminkan nilai valuasi kondisi yang sesungguhnya dari aset yang menjadi dasar penerbitan Efek tersebut dan / atau sesuai dengan mekanisme pasar yang teratur, wajar dan efisien serta tidak direkayasa. Pelaksanaan transaksi harus dilakukan menurut prinsip kehati-hatian serta tidak diperbolehkan melakukan spekulasi dan manipulasi yang di dalamnya mengandung unsur terlarang, di antaranya: Bai 'Najsy, yaitu melakukan penawaran palsu, hal ini sesuai dengan hadits larangan bai' najsy. Bai 'al-ma'dum, yaitu melakukan penjualan atas barang (efek syariah) yang belum dimiliki (short selling), itu maknanya menjual saham yang belum menjadi tanggung jawab, dan itu terlarang sesuai dengan hadits:
نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن بيع مالم يضمن.
Insider trading, yaitu memakai informasi orang dalam untuk memperoleh keuntungan atas transaksi yang dilarang. Margin trading (bai 'al-hamisy), yaitu melakukan transaksi atas efek syariah dengan fasilitas pinjaman berbasis bunga atas kewajiban penyelesaian pembelian efek syariah tersebut,
Jual beli saham tidak boleh dengan pinjaman berbunga dari corretor saham atau yang sejenisnya.
Ihtikar (Penimbunan), yaitu melakukan pembelian atau dan pengumpulan suatu efek syariah untuk menyebabkan perubahan hari efek syariah, dengan tujuan mempengaruhi pihak lain. ([2]) Suatu Efek dipandang telah memenuhi prinsip-prinsip syariah apabila telah memperoleh Pernyataan Kesesuaian Syariah. Efek Syariah mencakup Saham Syariah, Obligaz Syariah, Reksa Dana Syariah, Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA) Syariah, dan sur bercharga lainnya yang sesuai dengan Prinsip-prinsip Syariah.
Sebagaimana dijelaskan dalam fatwa DSN Nomor: 28 / DSN-MUI / III / 2002 tentang jual beli mata uang (al-sharf), bahwa bentuk-bentuk transaksi jual beli valas yang diharamkan adalah sebagai berikut:
Transaksi Forward , yaitu transaksi pembelian dan penjualan valas yang nilainya ditetapkan pada saat sekarang dan diberlakukan untuk waktu yang akan datang, antara 2 x 24 jam sampai dengan satu tahun.
Hukum transaksi adiante adalah haram, karena harga yang digunakan adalah harga yang diperjanjikan (muwa'adah) dan penyerahannya dilakukan di kemudian hari, padahal harga pada waktu penyerahan tersebut belum tentu sama dengan nilai yang disepakati.
Transaksi Swap , yaitu suatu kontrak pembelian atau penjualan valas dengan harga spot yang dikombinasikan dengan pembelian antara penjualan valas yang sama dengan harga forward. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi). Transaksi Option , yaitu kontrak untuk memperoleh hak dalam rangka membeli atau hak untuk menjual yang tidak harus dilakukan atas sejumlah unit valuta asing pada harga dan jangka waktu atau tanggal akhir tertentu. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi). ([3])
Hal ini sesuai dengan hadits-hadits Rasulullah Saw, di antaranya:
لما روى عبادة بن الصامت أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: الذهب بالذهب والفضة بالفضة والبر بالبر والشعير بالشعير والتمر بالتمر والملح بالملح مثلا بمثل يدا بيد فإذا اختلفت هذه الأصناف فبيعوا كيف شئتم يدا بيد - رواه أحمد-
Yang artinya, "Ubadah Bin ash Shomit r. a meriwayatkan bahwa Rasulullah viu bersabda: (penukaran) antara emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, syair dengan syair, korma dengan korma, garam dengan garam itu harus sama dan dibayar kontan. Jika berbeda (penukaran) barang di atas, maka juallah barang tersebut sekehendak kamu sekalian dengan syarat di bayar kontan. "(H. R Ahmad)
Berdasarkan fatwa DSN, transaksi jual beli mata uang pada prinsipnya boleh dengan ketentuan sebagai berikut:
Tidak untuk spekulasi (untung-untungan) Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan) Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai (attaqabudh). Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs) yang berlaku pada saat transaksi dilakukan dan secara tunai. ([4])
Dua ketentuan terakhir di atas itu sesuai dengan ketentuan jual beli mata uang yang dibolehkan adalah sebagai berikut:
Jual beli mata uang sejenis harus diserahterimakan secarai tunai dan sama nominal dan jumlahnya. Jual beli mata uang yang berbeda jenis itu harus diserahterimakan secarai tunai. Maka jual beli mata uang yang berbeda jenis dengan perbedaan harga itu dibolehkan. ([5])
Di antara praktek jual beli valas yang dibolehkan adalah transaksi Spot, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valuta asing (valas) untuk penyerahan pada saat itu (no balcão) atau penyelesaiannya paling lambat dalam jangka waktu dua hari. Hukumnya adalah boleh , karena dianggap tunai, sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari dan merupakan transaksi internasional. Wallahu a'lam. (usb / dakwatuna)
([1] (Al-Ma'ayir asy-Syar'iyah No. 21 tentang Saham, Hai'atu al-Muhasabah wa al-Muraja'ah li al-Muassasat al-Maliyah al-Islamiyah, barém, Cet. 2010 hal 293 ..
([2]) Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional, Edisi Revisi 2006, Jakarta, Diterbitkan atas kerja sama DSN - Banco Indonésia, Cet. 2006 hal. 274.
([3]) fatwa DSN Nomor: 28 / DSN-MUI / III / 2002 tentang jual beli mata uang (al-sharf).
([4]) fatwa DSN Nomor: 28 / DSN-MUI / III / 2002 tentang jual beli mata uang (al-sharf).
([5]) fatwa DSN Nomor: 28 / DSN-MUI / III / 2002 tentang jual beli mata uang (al-sharf).
Konten Terkait.
Berkurangnya fungsi kontrol pemerintah terhadap BUMN yang beralih menjadi anak perusahaan BUMN (seperti 3 Perusahaan & hellip;
Jual beli produk melalui marketplace dibolehkan selama memenuhi rukun dan syarat jual beli dan akad & hellip;
Densus Anti Korupsi sebetulnya tidak dibutuhkan oleh lembaga hukum Polri lebih jauh tidak dibutuhkan oleh & hellip;
Meski desain baru rupiah tersebut telah resmi diluncurkan, tetap saja masih mengundang kritik dari berbagai & hellip;
Mungkin jika bukan karena tuntutan saya tidak akan membaca buku yang luar biasa ini. Begitu & hellip;

No comments:

Post a Comment